JAKARTA, Weradio.co.id - Cahaya diredupkan. Layar perlahan menyala. Denting nada pembuka terdengar lirih, memecah hening ruangan yang dipenuhi ekspektasi.
Pada momen itulah, Lumesia Production secara resmi mempersembahkan screening remake music video Forget Jakarta, sebuah reinterpretasi visual dalam sebuah film berdurasi 5 menit dari lagu karya Aditya Sofyan yang telah dikenal luas dengan nuansa melankolis dan reflektifnya.
Screening film berdurasi 5 menit ini menjadi penanda langkah awal Lumesia Production sebagai rumah produksi kreatif yang diinisiasi oleh dua Mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Pembangunan Jaya (UPJ), Gregorius dan Bramantyo.
Berangkat dari visi menghadirkan ruang kolaborasi yang serius dan berstandar profesional di lingkungan mahasiswa, keduanya membangun Lumesia Production sebagai wadah eksplorasi visual yang berfokus pada kekuatan cerita dan kedalaman rasa sinematik.
BACA JUGA:Uang Passolo, Film Layar Lebar yang Sarat Pesan Sosial dan Budaya
Dalam versi remake ini, Forget Jakarta tidak sekadar diproduksi ulang, melainkan ditafsirkan kembali melalui pendekatan naratif yang lebih dramatik.
Lumesia Production mengangkat atmosfer urban dengan sudut pandang intim menghadirkan lanskap kota sebagai ruang memori, kehilangan, dan perjalanan emosional yang personal.
Setiap frame dirancang dengan komposisi visual yang terukur, permainan cahaya yang subtil, serta ritme editing yang selaras dengan dinamika lagu.
Gregorius menyampaikan, proyek ini lahir dari keinginan untuk menguji batas interpretasi visual terhadap karya musik yang telah memiliki identitas kuat.
BACA JUGA:Rico Michael Hadirkan Film Drama Keluarga Sarat Nilai Moral
“Kami tidak ingin sekadar meniru. Kami ingin menghadirkan perspektif baru. Bagaimana lagu ini berbicara dalam bahasa visual versi kami,” ujar Gregorius di Tangerang Selatan, Minggu, 1 Maret 2026.
Sementara itu, Bramantyo juga menekankan pentingnya proses kolaboratif dalam produksi ini. Dari hasil pengembangan konsep, penyusunan storyboard, pemilihan lokasi, hingga tahap color grading, seluruh proses dijalankan dengan pendekatan yang sistematis dan berorientasi pada kualitas akhir karya.
“Bagi kami, detail adalah bahasa. Cara kamera bergerak, cara cahaya jatuh di wajah talent, semuanya adalah bagian dari narasi,” kata Bramantyo.
Antusiasme penonton terlihat sejak awal pemutaran hingga sesi diskusi pasca-screening. Audiens tidak hanya menyaksikan film, tetapi juga terlibat dalam percakapan mendalam mengenai proses kreatif, tantangan produksi, serta interpretasi makna di balik setiap adegan.
BACA JUGA:Alasan Sugeng Wahyudi Siapkan Agenda Diskusi Budaya, Musik, dan Film, Ini Penjelasannya