JAKARTA, Weradio.co.id - Sebuah diskusi yang bertajuk Berkendara Aman dan Selamat saat Mudik Lebaran digelar di Hotel Nemuru, Jakarta Selatan, Selasa, 10 Maret 2026.
"Diskusi yang digelar Jaringan Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman) ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya pengendara sepeda motor, agar lebih memahami pentingnya keselamatan berkendara saat musim mudik Lebaran," jelas Koordinator Jarak Aman, Edo Rusyanto di sela acara diskusi.
Dalam seminar tersebut, trainer keselamatan berkendara Global Defensive Driving Consulting (GDDC), Lilik Andi Baryono memaparkan berbagai prinsip berkendara defensif untuk meminimalkan risiko kecelakaan di jalan raya, terutama ketika volume kendaraan meningkat selama periode mudik.
Menurut Lilik, tradisi mudik merupakan budaya turun-temurun masyarakat Indonesia. Istilah mudik sendiri berasal dari bahasa Jawa kuno yang berarti mulih disik atau pulang terlebih dahulu.
BACA JUGA:Konversi Motor Listrik atau Benahi Transportasi Publik?
Masyarakat biasanya melakukan perjalanan mudik untuk bersilaturahmi dengan keluarga, menjenguk orang tua, berkumpul dengan keluarga besar, hingga memanfaatkan waktu liburan.
Meski demikian, perjalanan mudik juga memiliki risiko tinggi, terutama bagi pengguna sepeda motor. Kendaraan roda dua masih menjadi pilihan utama bagi sebagian masyarakat karena dianggap lebih praktis dan ekonomis untuk perjalanan jarak jauh.
Dalam paparannya, Lilik menjelaskan, berkendara sepeda motor termasuk aktivitas yang memiliki tingkat risiko tinggi karena kestabilannya sangat bergantung pada dua tapak ban yang menempel di permukaan jalan. Kondisi tersebut membuat pengendara harus lebih waspada dalam menjaga keseimbangan dan mengendalikan kendaraan.
“Jalan raya merupakan fasilitas umum yang digunakan bersama oleh berbagai pengguna jalan. Karena itu, setiap pengendara wajib memahami etika berkendara dan mengutamakan keselamatan,” kata Lilik.
BACA JUGA:DPP Organda Soroti Terminal Bayangan, BBM Barcode, dan Lemahnya Koordinasi Transportasi Darat
Selain itu, peserta seminar juga diingatkan untuk memperhatikan jam-jam rawan kecelakaan saat perjalanan mudik, yakni pada pukul 12.00–15.00 serta 21.00–05.00. Pada waktu tersebut, kondisi fisik dan konsentrasi manusia cenderung menurun sehingga meningkatkan potensi kecelakaan di jalan.
Untuk mengurangi risiko, menurut Lilik, pengendara dianjurkan melakukan berbagai persiapan sebelum melakukan perjalanan jauh. Persiapan tersebut meliputi pemeriksaan kendaraan seperti indikator kecepatan, putaran mesin, temperatur, tekanan oli, hingga kondisi bahan bakar.
Selain kondisi kendaraan, Lilik berpesan, pengendara juga perlu memperhatikan cara membawa penumpang dan barang. Muatan yang berlebihan atau tidak seimbang dapat memengaruhi stabilitas sepeda motor selama perjalanan.
“Dalam konsep defensive riding, pengendara juga dianjurkan memiliki pandangan yang luas ketika berkendara. Hal ini dilakukan dengan melihat kondisi jalan beberapa kendaraan di depan, memperhatikan persimpangan, kendaraan yang parkir di pinggir jalan, serta kondisi tikungan di depan,” jelas Lilik.
BACA JUGA:Gunung Sampah Bantargebang Longsor, 4 Orang Tewas dan Sejumlah Truk Tertimbun