Menguak Sisi Gelap Flexing dan Perjanjian Iblis dalam Film Horor Aku Harus Mati

Jumat 27-03-2026,13:25 WIB
Reporter : Aditia Saputra
Editor : Rio Winto

JAKARTA, Weradio.co.id - Rumah produksi Rollink Action siap menghentak layar lebar dengan rilisan horor terbaru bertajuk Aku Harus Mati yang dijadwalkan tayang serentak pada 2 April 2026.

Film ini tidak sekadar menjual penampakan hantu, melainkan membedah borok sosial masyarakat urban yang terjebak dalam delusi kemewahan dan haus akan pengakuan.

Di bawah arahan sutradara Hestu Saputra, penonton akan disuguhi kengerian psikologis tentang bagaimana ambisi bisa berubah menjadi mesin pembunuh.

Eksekutif Produser Irsan Yapto menegaskan, premis film ini merupakan potret nyata dari fenomena 'jual jiwa' demi status sosial yang kian marak. Kolaborasi antara produser Irsan Yapto dan Nadya Yapto ini bertujuan menyentil nurani publik melalui narasi yang gelap dan menyesakkan.

BACA JUGA:Aula UPJ Bergetar, Teater Theatic Sajikan Dua Kisah Konflik Panas

"Aku Harus Mati adalah film Horor yang ceritanya paling dekat dengan kehidupan manusia modern jaman sekarang fenomena Jual Jiwa Demi Harta," tegas Irsan Yapto saat jumpa pers di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta, Kamis, 26 Maret 2026.

Melalui naskah yang digarap oleh Aroe Ama, film ini memotret realitas pahit di mana integritas sering kali digadaikan demi angka-angka di saldo rekening. Fokus cerita tertuju pada mereka yang rela menempuh jalur instan hanya agar terlihat sukses di mata lingkungan sekitar.

"Banyak masyarakat modern sekarang rela mengorbankan diri dan jiwa demi validasi dan harta sampai terlilit hutang pinjol, paylater, dan lain-lain," jelas Irsan Yapto.

Mala yang diperankan Hana Saraswati adalah representasi sempurna dari korban gaya hidup hedonistik kota besar yang kehilangan pegangan hidup setelah menjadi yatim piatu. Ketertarikannya pada dunia glamor membuatnya terjebak dalam lingkaran setan hutang pinjaman online (pinjol) serta layanan paylater yang membengkak tak terkendali.

BACA JUGA: Film 5 Menit Forget Jakarta, Karya Kreatif Mahasiswa DKV UPJ, Reinterpretasi Lagu Aditya Sofyan

Hidupnya berubah menjadi pelarian tanpa akhir saat para penagih hutang atau debt collector mulai meneror setiap langkah kakinya, menghancurkan ketenangan yang dia cari.

Dalam kondisi mental yang hancur dan keputusasaan yang memuncak, Mala memutuskan kembali ke panti asuhan tempatnya dibesarkan demi mencari perlindungan. Keputusannya untuk pulang ke pelukan Ki Jago yang diperankan Bambang Paningron, sosok yang dianggapnya ayah, awalnya terasa seperti solusi untuk memulai hidup baru yang lebih tenang.

Namun, pelarian ini justru menjadi pintu masuk bagi Mala ke dalam pusaran horor yang jauh lebih mematikan daripada sekadar kejaran penagih hutang di kota.

Sutradara Hestu Saputra menyoroti bagaimana hilangnya arah hidup sering kali berujung pada kehancuran yang sistematis bagi individu tersebut.

BACA JUGA:Alasan Sugeng Wahyudi Siapkan Agenda Diskusi Budaya, Musik, dan Film, Ini Penjelasannya

"Lewat film Aku Harus Mati, kami ingin mengajak penonton untuk merenungkan kembali, bagaimana ambisi dan kebutuhan akan validasi bisa membuat seseorang kehilangan arah," ujar Hestu Saputra.

Kategori :

Terkini