Arie juga menyinggung keberadaan pelaku jamu tradisional seperti Eyang Ratu dan komunitas Jamu deplokan di kawasan Kota Gede, Yogyakarta yang menjadi bagian dari rantai pelestarian budaya ini. Mereka dinilai berperan penting dalam menjaga keaslian resep serta metode peracikan jamu secara turun-temurun.
Di sisi lain, perkembangan industri herbal modern turut memberikan warna baru bagi jamu.
Inovasi dalam kemasan, pemasaran, hingga standardisasi produksi, kata Head of Corporate Kalbe, Abi Nisaka, menjadi langkah strategis agar jamu dapat diterima oleh generasi muda tanpa kehilangan nilai tradisionalnya.
“Ke depan, keberlanjutan pemberdayaan masyarakat ini diharapkan dapat membantu UMKM berkembang lebih kuat, sehingga jamu tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga sumber kesejahteraan masyarakat,” tutup Arie.
BACA JUGA:Kolaborasi IPSM Nasional dan Insan Kalbe Bergerak Sehatkan Cikarang
Dengan sejarah panjang dan dukungan berbagai pihak, jamu sebagai warisan leluhur Indonesia diyakini akan terus bertahan dan beradaptasi, sekaligus memperkuat identitas budaya serta ekonomi nasional.