VATIKAN, Weradio.co.id - Pemimpin Gereja Katolik Dunia, Paus Leo XIV, menyampaikan kecaman keras terhadap konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.
Dalam pesan terbarunya, Paus menegaskan, kekerasan yang terjadi saat ini merupakan bentuk 'pemujaan terhadap diri sendiri' dan menuntut agar peperangan segera dihentikan.
"Cukup sudah peperangan! Kekuatan sejati ditunjukkan dengan melayani kehidupan, bukan menghancurkannya," ujar Paus Leo XIV dalam ibadat doa perdamaian di Basilika Santo Petrus seperti dilansir Forbes yang dibaca Weradio.co.id, Minggu, 12 April 2026.
Kritik terhadap Delusi Mahakuasa
Paus kelahiran Amerika Serikat tersebut menyoroti fenomena 'delusi mahakuasa' yang menjangkiti para pemimpin dunia. Menurutnya, ambisi kekuasaan dan kepentingan ekonomi telah membutakan mata hati manusia sehingga mengabaikan nyawa rakyat sipil yang tidak berdosa.
BACA JUGA:Sinyal Perubahan Vatikan, Paus Leo Kembalikan Tradisi Klasik dan Rombak Jabatan Penting
Ia juga secara tegas menolak penggunaan nama Tuhan untuk membenarkan tindakan militer.
"Bahkan, nama Tuhan yang suci, Allah sang pemberi hidup, diseret ke dalam wacana kematian," tuturnya di hadapan ribuan jemaat yang hadir.
Seruan Dialog dan Mediasi
Pernyataan tegas ini muncul di tengah ketegangan yang meningkat di Timur Tengah.
Paus Leo XIV mendesak para pemimpin negara untuk meninggalkan meja perencanaan senjata dan beralih ke meja mediasi.
BACA JUGA:Peristiwa Bersejarah, Indonesia Tampil Perdana di Pameran 100 Gua Natal di Vatikan
Dia menekankan, perdamaian tidak akan pernah tercapai melalui pengeboman atau pengerahan kekuatan militer, melainkan melalui dialog yang tulus.
Vatikan secara konsisten menyatakan, tidak ada agama yang memberkati konflik. Paus mengajak seluruh umat manusia untuk memutus rantai kejahatan dan membangun dunia yang bebas dari ancaman senjata maupun kebencian.
Dampak Kemanusiaan yang Nyata
Dalam homilinya, Paus juga menceritakan banyaknya surat yang ia terima dari anak-anak di zona konflik. Ia menyebutkan bahwa suara anak-anak adalah kejujuran murni yang menggambarkan betapa tidak manusiawinya peperangan yang sering kali dibanggakan oleh orang dewasa.
Kecaman ini dianggap sebagai sikap politik paling berani dari Paus Leo XIV sejak konflik pecah.