JAKARTA, Weradio.co.id - Roy Genggam Nusantoro, salah satu fotografer profesional andal, sedang mempersiapkan penerbitan tiga buah bukunya.
Harapan terbesarnya, satu di antara ketiga buku tersebut, bisa terbit secepatnya. "Semoga akhir tahun ini, terutama yang materinya sudah terkumpul," ungkap Roy di studionya yang berada di kawasan Cirendeu, Jakarta Selatan, Senin, 20 April 2026
Ketiga buku tersebut, tentang kehidupan gajah-gajah di Way Kambas, Lampung. Lalu, seri atau edisi kedua dari Memotret Pemotret. Ketiga, buku Foto Berpuisi, Puisi Berfoto.
"Buku tentang Gajah-Gajah Way Kambas sudah ada alternatif judulnya, yakni Gajah Seto. Saya sering berkunjung ke Way Kambas, nyupir sendiri ke sana, nginep di rumah penduduk," papar Roy, alumni SMAN IX Bulungan tahun 1980.
BACA JUGA: BBCA Diborong Direksi saat Harga Turun
Dari beberapa kali kunjungan ke Way Kambas itu, kata Roy, ada sekitar 5.000 foto yang dihasilkan. Dari keseluruhan foto tersebut, Oscar Matuloh menyuntingnya hingga sekitar 200 foto.
Kata Roy, sekadar membuat buku mungkin mudah. Tetapi, dia tak mau sekadarnya. "Bikin buku tetap harus pakai rasa. Oleh karena itu juga opsi judul buku berubah-ubah. Buku tentang Gajah-Gajah Way Kambas semula saya kasih judul Gajah Matahari Mahout. Mahout adalah sebutan pawang gajah di seluruh dunia," jelas Roy.
Tentang buku foto berpuisi, atau puisi berfoto, isinya adalah rangkaian puisi dan foto.
"Puisi dulu baru foto, atau sebaliknya, Sekarang, lagi rajin menulis puisi, apa pun yang tersirat langsung saya tulis di notes," kata Roy.
BACA JUGA:Gol Erling Haaland Bantu Man City Bungkam Arsenal, Pep Guardiola Sebut Timnya 'Masih Hidup'
Buku mana yang akan lebih dulu terbit? Memotret Pemotret - Seniman Foto Indonesia, Gajah Seto, atau Foto Berpuisi, Puisi Berfoto?
"Hahaha, belum tahu. Lihat mood-nya saja, yang jelas materinya sudah ada," ujar alumni sinematografi IKJ 1983 itu.
Di samping menciptakan sejumlah karya fotografi fenomenal dan menjadi rujukan, Roy sudah melahirkan buku Memotret Pemotret - Maestro Fotografi Indonesia, pada 2015. Buku ini berisi potret dari 23 fotografer dalam wujud hitam-putih, dari Don Hasman, Darwis Triadi hingga Yudhi Soejoatmodjo, Oscar Matuloh dan Arbain Rambey.
Memotret Pemotret - Maestro Fotogragi Indonesia adalah bentuk apresiasinya kepada para pemotret senior. Sekaligus menjadi bagian dari proses pembelajaran kepada para pemotret muda atau yunior. Buku yang penerbitannya didukung oleh Nixon Team ini menjadi spirit idealisme Roy, bukan pencarian profit.
"Semua diambil fotonya di sini," kata Roy, menunjukkan Genggam Studio yang berukuran 8,5 x 15 meter, dengan tinggi studio sekitar tujuh meter.