JAKARTA, Weradio.co.id - Kondisi kesehatan jiwa remaja di Indonesia saat ini memerlukan perhatian serius.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, sebanyak 9,8 persen remaja berusia di atas 15 tahun mengalami gangguan mental emosional dengan gejala depresi dan kecemasan.
Stres didefinisikan sebagai keadaan khawatir atau ketegangan mental yang dipicu oleh situasi sulit.
Bagi remaja, pemicu stres atau stressor sangat beragam, mulai dari konflik keluarga, masalah ekonomi, hingga faktor kesehatan.
BACA JUGA:Marsekal TNI Wahyu Anggono Dukung Kerja Sama TNI AU dan Kalbe di Sultra
Namun, beban akademik menjadi salah satu pemicu utama. Sebuah survei menunjukkan bahwa 46 persen siswa mengalami stres akademik kategori cukup tinggi, dengan beban tugas sebagai komponen tertinggi.
Dampak stres pada remaja tidak bisa disepelekan karena menyerang berbagai aspek.
Secara emosional, remaja menjadi mudah marah (30,6%) dan sensitif. Secara fisik, stres memicu kelelahan (21,1%), sakit kepala (20,3%), hingga gangguan tidur.
Berdasarkan data itu, PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) melakukan edukasi manajemen stres untuk 400 pelajar SMA, SMK, dan Sekolah Rakyat di Aula Dinas Dikbud Sulawesi Tenggara, Sabtu, 25 April 2026.
BACA JUGA:Semarak Dirgantara 2026, Kalbe dan TNI AU Gelar Aksi Sosial Layanan Pemeriksaan Mata di Kendari
Bahkan, stres kronis yang tidak tertangani dapat berkontribusi pada risiko bunuh diri dan gangguan jiwa berat.
Pakar kesehatan jiwa, Ns. Yunita Astriani Hardayati, M.Kep., Sp.Kep.J., menjelaskan manajemen stres sangat penting untuk mengubah sumber stres menjadi pengalaman yang terkendali.
Salah satu strategi yang dianjurkan adalah memodifikasi respons melalui teknik relaksasi, berpikir positif, dan melakukan hobi.
Selain itu, membangun ketahanan mental dapat dilakukan dengan menjaga relasi positif bersama keluarga atau teman, serta rutin beribadah.
BACA JUGA:Miliarder Thailand Menang Lelang Lahan Properti di Singapura, Nilainya Capai Rp 7,6 Triliun