Dalam tekanan tinggi sebagai representasi bangsa, The Longest Wait berupaya menangkap pengorbanan yang tidak selalu terlihat seperti jarak dengan keluarga, beban ekspektasi, hingga pergulatan batin yang menyertai perjalanan mereka.
Dari ruang ganti hingga momen-momen sunyi di luar sorotan kamera, The Longest Wait menghadirkan kisah yang lebih intim tentang manusia di balik jersey, bagaimana identitas tidak hanya ditentukan oleh tempat lahir, tetapi oleh pilihan untuk berdiri dan berjuang atas nama Merah Putih.
Oleh karena itu, Sakti Parantean juga tidak ingin menekankan berapa target penonton yang ingin diraih dari film dokumenter pertama tentang Timnas Indonesia itu.
"Film ini bukan sekadar mengejar box office. Kami membuat film ini belasan bulan atau dua tahun hanya untuk mempersembahkannya kepada bangsa dan Timnas, " tegasnya.
“Kami percaya ini adalah cerita yang dimiliki semua orang Indonesia. Bukan hanya tentang tim nasional, tapi tentang harapan yang kita rasakan bersama—di stadion, di rumah, di mana pun kita berada," tambah Sakti.
Proses tidak mudah
Sementara itu, Executive Producer Beach House Pictures Donovan Chan menjelaskan pengambilan gambar selama proses produksi tidaklah mudah.
The Longest Wait berupaya untuk menghadirkan cerita yang utuh juga membawa kru menghadapi berbagai tantangan di lapangan. Dalam salah satu proses peliputan di Jeddah (Arab Saudi), anggota tim produksi sempat
diamankan oleh otoritas setempat, sebuah risiko yang muncul dari upaya untuk mendapatkan akses yang lebih dalam dan autentik.
BACA JUGA:Krisis Energi dan Urgensi Reformasi Transportasi Umum
Pencarian ini bahkan melampaui batas lapangan dan negara. Tim produksi mengikuti para pemain hingga ke Eropa, sekaligus berbincang dengan keluarga mereka untuk memahami sisi
yang lebih personal seperti tentang keseharian, pengorbanan, dan bagaimana kecintaan terhadap Indonesia tetap hidup, bahkan jauh dari Tanah Air.
Kru juga harus menjaga konsentrasi pemain yang sedang fokus membawa Indonesia ke Piala Dunia 2026. "Saat pemain sedang super fokus,
Kami tidak mungkin tiba-tiba meminta pemain berbicara dua jam di depan kamera, saat mereka sedang fokus penuh ke Piala Dunia. Kami harus bisa mendapatkan kepercayaan, respek, dan menyatu ke dalam tim, " tutur Donovan Chan.
BACA JUGA:Majalah Bobo Luncurkan Novel Grafis Bobo the Origin