Tujuan Reaktivasi
Tujuan reaktivasi jalan rel, pertama untuk meningkatkan aksesibilitas dan mobilitas masyarakat. Memberikan alternatif moda transportasi yang aman, nyaman, dan terjangkau bagi masyarakat, khususnya di daerah yang konektivitasnya terbatas. Mengurangi ketergantungan pada transportasi jalan raya, yang sering kali macet dan memiliki dampak lingkungan lebih besar.
Kedua, mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Mengaktifkan kembali pusat-pusat ekonomi di sepanjang jalur yang dilewati, termasuk stasiun dan kota-kota kecil. Memperkuat logistik nasional dan daerah dengan menyediakan moda angkutan barang yang efisien (mengalihkan pengangkutan barang dari truk di jalan raya ke kereta api). Menciptakan peluang usaha baru di sektor pariwisata, perdagangan, dan jasa di sekitar stasiun.
Ketiga, mengembangkan sektor pariwisata. Menghubungkan destinasi wisata yang sebelumnya sulit dijangkau, seperti jalur dengan pemandangan eksotis. Contohnya, Garut - Cibatu atau Banjar - Cijulang. Memberikan pengalaman nostalgia perjalanan kereta api bagi wisatawan.
Keempat, mengurangi beban jalan raya. Menurunkan volume kepadatan kendaraan di jalan raya seiring dengan beralihnya penumpang dan angkutan barang ke moda kereta api. Membantu mengurangi kerusakan jalan raya akibat beban angkutan berat (truk).
Kereta api memiliki keunggulan di sisi ekonomi pada jarak menengah (750-1.500 km).
Kelima, memanfaatkan kembali aset negara. Memaksimalkan aset berupa jalur rel dan bangunan stasiun yang selama ini tidak terpakai atau terbengkalai. Mengembalikan fungsi lahan untuk kepentingan transportasi publik.
Keenam, mendukung pengembangan wilayah. Memperkuat integrasi antarmoda transportasi. Misalnya, menghubungkan jalur kereta ke bandara atau terminal bus. Memicu pertumbuhan kawasan di sekitar stasiun sesuai konsep Transit Oriented Development/TOD.
Melalui komitmen reaktivasi ini, kereta api bukan sekadar sisa sejarah yang berdebu, melainkan nadi yang kembali berdenyut untuk menggerakkan masa depan bangsa.
Dengan menghidupkan kembali jalur-jalur yang sempat terputus, tidak hanya menyambungkan rel, akan tetapi juga merajut kembali potensi ekonomi, sosial, dan pariwisata menuju konektivitas nasional yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
(*) Penulis adalah Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI)