Oleh: Djoko Setijowarno (*)
Lonjakan kecelakaan usia produktif menuntut integrasi pendidikan keselamatan sejak sekolah dasar.
Seperti di mancanegara, membangun budaya keselamatan jalan sejak usia dini adalah investasi jangka panjang demi menyelamatkan masa depan bangsa.
Pendidikan keselamatan lalu lintas di mancanegara umumnya tidak hanya berfokus pada pengenalan rambu, tetapi telah diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah dan pembentukan karakter sejak usia dini.
Pendekatannya sering kali menggabungkan aspek psikologi, infrastruktur yang mendukung pembelajaran, serta penegakan hukum yang ketat.
Pertama, Belanda dengan menerapkan Lisensi Bersepeda (Verkeersexamen). Belanda merupakan salah satu negara terbaik dalam integrasi transportasi.
Anak-anak di sana tidak hanya belajar teori, tetapi harus mengikuti Ujian Lalu Lintas Nasional.
Praktik langsung di tingkat sekolah dasar menjadi sebuah kewajiban. Siswa wajib mengikuti ujian praktik bersepeda di jalan raya yang diawasi oleh polisi dan sukarelawan.
Infrastruktur yang edukatif. Banyak kota memiliki taman lalu lintas (traffic gardens). Di sana, anak-anak bisa berlatih dalam simulasi kota kecil yang aman.
Kemudian, Jepang yang menerapkan budaya mandiri dan Omoiyari. Jepang sangat menekankan pada kemandirian dan etika berkendara yang disebut Omoiyari atau empati, tenggang rasa.
Berjalan kaki ke sekolah. Sejak usia 6 tahun, anak-anak dilatih berjalan kaki ke sekolah secara berkelompok tanpa pendampingan orang tua.
Ini secara tidak langsung mengajarkan mereka cara menyeberang dan memahami ritme lalu lintas.
Pelatihan lansia. Mengingat populasi lansia yang tinggi, Jepang memiliki program edukasi khusus dan pembaruan lisensi yang ketat bagi pengemudi lanjut usia untuk menekan angka kecelakaan.
Di Swedia ada namanya Visi Zero (Vision Zero). Swedia adalah pelopor konsep Vision Zero yang menyatakan bahwa tidak ada jumlah kematian yang dapat diterima di jalan raya.
Tanggung jawab sistem, yaitu pendidikan di Swedia menekankan bahwa manusia bisa melakukan kesalahan (human error), sehingga edukasi dibarengi dengan desain infrastruktur yang memaafkan kesalahan tersebut, seperti pembatas jalan yang fleksibel dan zona 30 km per jam.
Kurikulum berkelanjutan, yaitu pendidikan keselamatan jalan adalah bagian dari materi wajib yang diajarkan secara spiral atau berulang dengan tingkat kesulitan meningkat, dari TK hingga SMA.