JAKARTA, Weradio.co.id – Pengumuman evaluasi berkala (rebalancing) indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada 12 Mei 2026 memicu riak di Pasar Modal Indonesia.
Meski indeks tersebut menghapus (deletion) sejumlah emiten, praktisi pasar modal sekaligus Co-Founder PasarDana, Dr. Hans Kwee, mengimbau pelaku pasar agar tetap tenang dan tidak terjebak dalam aksi jual panik (panic selling).
Berikut adalah rangkuman tajam terkait dinamika pasar pasca-pengumuman MSCI dan peluang di balik volatilitasnya:
Hans Kwee menekankan, keluarnya sejumlah saham dari indeks MSCI bukan berarti perusahaan tersebut sedang bermasalah secara kinerja.
BACA JUGA:Bursa Olahraga Dunia Gempar! Mantan Bos NFL Turun Gunung Pimpin Liga Voli Profesional Baru, Ada Apa?
Penghapusan ini lebih didominasi oleh faktor metodologi indeks, seperti perubahan bobot dan tingkat likuiditas saham di pasar.
"Perlu dipahami bahwa penghapusan emiten dari indeks ini lebih bersifat teknikal, bukan serta-merta mencerminkan kerusakan fundamental pada perusahaan tersebut," ujar Hans dalam keterangan tertulis kepada Weradio.co.id, Jumat, 15 Mei 2026.
Ia menambahkan bahwa para manajer investasi dan pelaku pasar profesional sebenarnya sudah mengantisipasi langkah MSCI ini sejak beberapa bulan lalu.
Pergerakan harga yang terjadi saat ini merupakan penyesuaian wajar sebelum para manajer investasi pasif melakukan eksekusi portofolio pada tenggat waktu 29 Mei mendatang.
Serok Saham Blue Chip dan Small Cap
Alih-alih ikut panik, Hans melihat tekanan jual paksa (forced selling) dari dana kelolaan pasif ini sebagai peluang emas bagi investor ritel maupun institusi. Penurunan harga yang terjadi sering kali bersifat anomali dan tidak rasional.
"Di balik volatilitas jangka pendek ini, justru terbuka peluang untuk melakukan akumulasi pada saham-saham blue chip dan sektor small cap yang harganya terkoreksi secara anomali akibat kepanikan pasar," jelas dia.
Transparansi adalah Kunci
Hans juga menyoroti pentingnya peran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO), yakni BEI, KPEI, dan KSEI, dalam meningkatkan kredibilitas pasar modal Indonesia.
Dia merujuk pada keberhasilan India yang bertransformasi menjadi primadona pasar berkembang (emerging market).