Strategi yang mereka terapkan, pertama, memasukkan kurikulum pendidikan keselamatan bertransportasi sejak usia dini.
Pendidikan keselamatan lalu lintas di mancanegara umumnya tidak hanya berfokus pada pengenalan rambu, tetapi telah diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah dan pembentukan karakter sejak usia dini.
Kedua, implementasi filosofi vision zero dan safe system. Filosofi ini berasal dari Swedia (1997) dengan prinsip utama bahwa tidak ada nyawa yang boleh hilang akibat lalu lintas.
Alih-alih menganggap kecelakaan adalah nasib, mereka menganggap kecelakaan adalah kegagalan sistem.
Jika pengemudi melakukan kesalahan manusiawi, maka sistem infrastruktur harus mampu melindungi mereka agar kesalahan tersebut tidak berakibat fatal.
Ketiga, desain jalan yang Pemaaf (forgiving roads). Infrastruktur dirancang untuk meminimalkan dampak jika terjadi kesalahan manusia Desain jalan yang secara otomatis memaksa pengemudi melambat tanpa perlu banyak rambu (self-explaining roads).
Misalnya, penyempitan jalan di area pemukiman atau penggunaan chicanes (tikungan buatan). Memisahkan secara fisik antara kendaraan bermotor, pesepeda, dan pejalan kaki.
Penerapan batas kecepatan rendah yang sangat ketat di kawasan padat penduduk. Secara medis, risiko kematian pejalan kaki turun drastis jika ditabrak pada kecepatan di bawah 30 km/jam dibandingkan 50 km/jam.
Keempat, ketegasan penegakan hukum berbasis teknologi. Negara maju meminimalkan interaksi langsung antara petugas dan pelanggar untuk menghindari pungli dan meningkatkan efisiensi.
Kamera pemantau 24 jam yang mendeteksi kecepatan, penggunaan sabuk pengaman, hingga penggunaan ponsel (Electronic Traffic Law Enforcement/ETLE. Sistem poin (demerit point system), yaitu pelanggar lalu lintas mendapat poin pada SIM mereka. Jika poin mencapai batas tertentu, SIM dicabut secara otomatis tanpa kompromi.
Kelima, standar keselamatan kendaraan yang tinggi. Kendaraan yang beredar harus memiliki fitur keselamatan aktif dan pasif yang ketat teknologi seperti Electronic Stability Control (ESC), Autonomous Emergency Braking (AEB), dan sensor titik buta menjadi standar wajib, bukan fitur opsional.
Pengawasan ketat angkutan barang, penggunaan Tachograph digital untuk memantau jam kerja sopir truk secara real-time guna mencegah kelelahan.
Keenam, kualitas transportasi umum yang mumpuni. Salah satu cara paling efektif menurunkan angka kecelakaan adalah mengurangi jumlah kendaraan pribadi di jalan.
Dengan menyediakan sistem transportasi umum yang terintegrasi, aman, dan tepat waktu, negara maju berhasil memindahkan risiko dari kendaraan pribadi (yang lebih rawan kecelakaan) ke moda transportasi massal yang secara statistik jauh lebih aman.
(*) Penulis adalah Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI)