JAKARTA, Weradio.co.id - Jagat bisnis internasional dikejutkan oleh aksi korporasi besar yang melibatkan salah satu miliarder asal Indonesia.
Dhilmar Limited, sebuah perusahaan tambang yang disokong oleh taipan papan atas Indonesia, Alexander Ramlie, resmi menyepakati akuisisi raksasa.
Mereka membeli seluruh portofolio tambang batu bara kokas (coking coal) milik perusahaan raksasa dunia, Anglo American, di Australia dengan nilai fantastis mencapai US$ 3,9 miliar atau setara dengan Rp 62,4 triliun.
Kabar mengenai transaksi jumbo ini diumumkan secara resmi pada Senin, 18 Mei 2026.
BACA JUGA:Keluar dari Pengaruh Sang Ayah, James Murdoch Borong New York Magazine Senilai Rp 4,7 Triliun
Seperti dilansir Forbes yang dibaca Weradio.co.id, Senin, 25 Mei 2026, langkah strategis tersebut menandai ekspansi masif Dhilmar ke kancah global sekaligus menjadi babak baru bagi kepemimpinan Alexander Ramlie di industri pertambangan internasional.
Berdasarkan kesepakatan itu, Dhilmar akan mengambil alih kepemilikan penuh atas lima tambang batu bara aktif serta beberapa proyek pengembangan potensial yang berlokasi di Bowen Basin, Queensland.
Wilayah tersebut selama ini dikenal secara global sebagai salah satu pusat penghasil batu bara kokas berkualitas tinggi, komoditas utama yang sangat dibutuhkan sebagai bahan baku pembuatan baja.
Bagi Anglo American, penjualan aset senilai miliaran dolar ini merupakan bagian dari strategi divestasi untuk menyederhanakan struktur perusahaan.
BACA JUGA:Geger Rebalancing MSCI, Investor Jangan Panik! Hans Kwee Ungkap Siasat Serok Saham Salah Harga
Langkah tersebut diambil menjelang rencana merger besar mereka dengan perusahaan asal Kanada, Teck Resources, sekaligus sebagai upaya mengalihkan fokus bisnis ke sektor logam masa depan seperti tembaga dan bijih besi.
Nama Alexander Ramlie sendiri sudah tidak asing lagi di telinga para pelaku pasar modal dan industri komoditas.
Dia merupakan sosok kunci sekaligus Direktur Utama PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), salah satu produsen emas dan tembaga terbesar di Indonesia.
Hingga berita ini diturunkan, proses akuisisi masih dalam tahap penyelesaian dan tengah menunggu persetujuan dari otoritas regulasi di Australia.
Jika berjalan mulus, transaksi ini diproyeksikan bakal memperkukuh pengaruh konglomerasi tambang yang dimotori oleh pengusaha Indonesia di panggung dunia.