Sebagai keynote speaker, Mgr Didik mengajak para pegiat komunikasi seluruh keuskupan di Indonesia, untuk masuk 'ruang hening' merefleksikan esensi komunikasi sebagai anugerah Tuhan, sekaligus menjawab seruan Paus untuk menjaga wajah dan suara manusia.
“Bukan hanya Gereja yang menjadi ruang aman dan kudus, tapi bagaimana ruang media sosial kita juga menjadi ruang yang aman dan suci. Bukan malah memprovokasi kebencian di sosial media. Kemajuan teknologi harus jadi pilar penjaga martabat manusia,” papar Mgr Didik.
Gereja mengajak umat menjadi manusia yang otentik, bukan dengan membenci teknologi. Tidak terpancing mengadopsi kepalsuan, tetapi kritis berhadapan dengan deepfake.
Dalam forum yang sama, Rektor Universitas Pradita, pakar teknologi informasi, Prof. Richardus Eko Indrajit, menegaskan, penggunaan AI cukup sekadar alat, bukan sebagai pengganti manusia. AI bersifat melayani perjumpaan, bukan menggantikannya.
BACA JUGA:KWI Soroti 'Luka Sosial' di Papua hingga 'Bumerang' Food Estate: Demokrasi Kita Sedang Mundur?
“Wajah adalah ikon Allah, dia sakral. Wajah dan suara manusia tidak untuk dipalsukan, karena sifatnya unik dan tak bisa ditiru. Kecuali dapat izin dari orangnya, untuk kepentingan yang baik,” tegas Eko.
Di sela paparannya, Eko menampilkan contoh video singkat yang dia buat dengan suatu aplikasi AI, menampilkan podcast antara dirinya dengan Paus Leo IV.
Dia menambahkan, video tersebut hanya boleh dipergunakan jika mendapat izin dari Vatican, tidak boleh langsung disebarkan.
Tergoda Viralitas
Dalam upaya mempertajam pemahaman peserta, talkshow penting digelar untuk kaum muda dan kelompok bapak Katolik. Kesempatan ini mengetengahkan pengalaman nyata pegiat komunikasi digital.
BACA JUGA:Bukan Cuma Teori, Siswa Gonzaga Dilatih Cari Solusi Masalah Dunia
Talkshow Orang Muda memperbincangkan pentingnya menjaga privasi dari bahaya penipuan digital. Ketua Komisi Kepemudaan KWI, RD. Frans Kristi Adi, menyinggung kecenderungan kaum muda untuk selalu viral dan terlihat 'keren' di media sosial. Penggunaan AI sering jadi pilihan untuk mendukung kecenderungan itu.
“Bisa saja kita terlihat hangat di media sosial tapi di dunia nyata menjadi dingin,” kata Adi, mengingatkan AI hanya alat bantu yang tidak pernah mampu menggantikan hati nurani manusia.
Influencer lokal yang telah melanglang buana ke sejumlah negara, F. Deliana Winki atau Delly Sape, mengatakan, justru ciri khas diri yang asli yang harus ditampilkan, bukan realitas palsu.
Dia mencontohkan dirinya, seorang gadis muda pemain sape, alat musik petik tradisional Dayak, membranding diri dengan identitas budaya lokal.