4. HR perlu diposisikan sebagai business leader, bukan hanya fungsi administratif
Dalam pandangan Widyo, peran HR tidak lagi cukup jika hanya berfokus pada administrasi atau operasional SDM.
BACA JUGA:Cari Cuan Baru, Miliarder Thailand Nekat Lepas Aset Properti Eropa Senilai Rp 5,5 Triliun
HR perlu hadir sebagai business leader yang memahami strategi perusahaan, mengelola organisasi, menyiapkan talenta, dan membangun budaya kerja yang mendukung keberlanjutan bisnis.
Pergeseran cara pandang ini menjadi semakin penting ketika perusahaan menghadapi perubahan yang cepat dan kompleks.
5. Empati tetap menjadi fondasi penting saat organisasi menghadapi masa transisi
Di tengah tekanan bisnis dan perubahan organisasi, Widyo menekankan bahwa keputusan sulit tetap perlu dijalankan dengan empati.
BACA JUGA:Tangis Pecah di Rumah Sakit, Jessie J Bawa Kabar Mengejutkan soal Kanker Payudara yang Diidapnya
Bagi pemimpin HR, menjaga martabat, komunikasi, dan kemanusiaan dalam setiap proses transisi menjadi hal yang tidak kalah penting dari aspek bisnis itu sendiri.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan yang kuat bukan hanya soal ketegasan, tetapi juga soal kemampuan memanusiakan orang dalam situasi yang tidak mudah.
Widyo mengatakan, “Buat saya, kepemimpinan hari ini bukan hanya soal mengarahkan tim untuk mencapai target, tetapi juga bagaimana kita membangun titik temu di tengah perbedaan budaya, generasi, dan cara kerja."
"Pemimpin perlu memastikan energi organisasi tetap fokus ke luar, ke tantangan bisnis dan kompetitor, sambil tetap menjaga empati terhadap orang-orang di dalamnya,” tambah Widyo.
Sedangkan Head of Country Marketing Jobstreet by SEEK Indonesia Sawitri mengatakan , tantangan kepemimpinan saat ini semakin kompleks dan menuntut perspektif yang lebih strategis dari fungsi HR.
“Insight dari Pak Widyo menegaskan bahwa HR hari ini perlu hadir sebagai business leader yang mampu menjembatani kebutuhan bisnis dengan kebutuhan manusia di dalam organisasi.," katanya.
"Ini menjadi semakin penting ketika perusahaan harus bergerak cepat, tetapi tetap menjaga budaya kerja yang sehat dan kolaboratif,” tutup Sawitri.