Pada akhirnya, pelatihan guru berbasis seni reflektif bukan sekadar program pendidikan alternatif.
Ia adalah usaha menyelamatkan dimensi kemanusiaan yang mulai terkikis oleh sistem yang terlalu mekanis.
Karena bangsa ini tidak hanya membutuhkan manusia yang pintar. Bangsa ini membutuhkan manusia yang masih memiliki hati nurani.
(*) Penulis adalah pengamat kebudayaan dan dinamika sosial. Penulis merupakan alumni S1 dan S2 Fakuktas Hukum Universitas Krisnadwipayana