“Saya harap para pastor, pegiat Komsos, dan umat lebih aktif membagikan kisah-kisah inspiratif dari lingkungan Gereja maupun masyarakat. Wartakan kepada dunia melalui cerita-cerita yang membawa pengharapan,” ujar Kornelius Purba.
Bedah Karya
Di kelas jurnalistik, hasil liputan praktik ditayangkan, dibaca, dan dibedah oleh Abdi Susanto sebagai mentor.
Kelemahan umumnya para pemula ada pada kesulitan menyusun kalimat, memahami struktur tulisan, mengolah hasil wawancara dan reportase, sampai pada menulis judul.
BACA JUGA:Gempuran Teknologi Intai Media Gereja, Pegiat Komsos Wajib Berbenah
“Menulis tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi belajar berkomunikasi yang baik dengan pembaca,” kata Abdi Susanto.
Di kelas podcast, karya seluruh peserta ditayangkan bergiliran di layar videotron. Mentor memberi koreksi bahkan kritik sebagai bekal bagi kreator kelak berkarya di Komsos masing-masing.
Seorang mentor, Jose Marwoto, menekankan pentingnya kemampuan host membangun suasana percakapan yang hidup dan mengalir.
Host pada podcast tidak cukup hanya membacakan daftar pertanyaan, tetapi harus mampu menggali cerita, emosi, dan pengalaman narasumber.
BACA JUGA:Peristiwa Bersejarah, Indonesia Tampil Perdana di Pameran 100 Gua Natal di Vatikan
“Podcast yang baik tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menghadirkan cerita yang mampu membuat pendengar terlibat secara emosional,” kata Jose Marwoto.
Di kategori konten kreatif, Ignasius Kristoper Adi Surya menyoroti pentingnya kesesuaian antara narasi, gambar, dan audio.
Secara umum, ide yang diolah peserta cukup menarik dan relevan. Namun banyak kelemahan pada detail teknis, seperti konsistensi format video, penggunaan subtitle, kualitas audio, serta pemilihan gambar yang mendukung pesan utama.
“Konten sederhana sekalipun dapat menjadi kuat apabila didukung naskah yang baik dan penyampaian pesan yang jelas,” kata dia.
BACA JUGA:Bahasa Indonesia Resmi Jadi Bahasa Ke-57 di Media Resmi Vatikan
Sementara di kategori video pendek, Samuel Krismanto mengajak peserta lebih memahami karakter film dokumenter. Dokumenter bukan hanya menampilkan informasi, tetapi harus mampu menggali konflik, nilai, atau makna yang lebih dalam dari sebuah peristiwa.