BANDUNG, Weradio.co.id - Dunia investasi dan pasar modal sejauh ini masih dianggap faktor penting untuk perekonomian nasional. Bahkan, pertumbuhan investor di pasar menunjukkan tren positif.
Terutama di Provinsi Jawa Barat. Wilayah ini mencatat jumlah investor terbesar dari 38 provinsi di Indonesia, yaitu sebanyak 5,53 juta investor. Hal ini diungkap Kepala Unit Pengelolaan Efek PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), A. M. Anggita Maharani, pada acara sosialisasi dan edukasi pasar modal, Jumat 5 Juni 2026 di Gedung BEI, Jalan Khp Hasan Mustopa, Bandung.
Kegiatan yang digelar bekerja sama dengan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) ini, bertujuan untuk menyampaikan informasi terbaru tentang perkembangan pasar modal, khususnya yang dilaksanakan oleh KSEI.
BACA JUGA:Target Ganda yang Ingin Dicapai John Herdman saat Pimpin Indonesia Uji Coba Lawan Oman dan Mozambik
Bersumber pada angka di Jawa Barat tersebut, Kota Bandung menduduki posisi keempat dengan jumlah investor sejumlah 403.572 (7,30%). Sedangkan, untuk posisi pertama ditempati oleh Kabupaten Bogor dengan jumlah investor sebanyak 541.324 (9,79%).
Menurut Anggita Maharani investor pasar modal di Kota Bandung didominasi kalangan muda berusia kurang dari 30 tahun dan 31-40 tahun dengan total 71,99%. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan investor muda di pasar modal Indonesia yang cukup signifikan, dengan peningkatan investor usia muda sebesar 79,14% sejak tahun 2025.
"Sedangkan dari sisi pekerjaan, investor di Kota Bandung didominasi profesi karyawan (karyawan swasta, pegawai negeri, guru, TNI/ polisi/ pensiunan) dengan total 33,93%”, kata Anggita dalam acara media gathering.
Sejalan dengan peningkatan jumlah investor pasar modal berusia muda, maka sosialisasi dan edukasi yang diselenggarakan KSEI kini juga ditargetkan untuk pelajar dan mahasiswa dengan menyelenggarakan kegiatan gathering bersama Galeri Investasi BEI di Jawa Barat.
BACA JUGA:Safari Jurnalis 2026, Ajang Mempererat Insan Pers, Pemda, dan Masyarakat
Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jawa Barat, Achmad Dirgantara, juga merasa perlu adanya upaya untuk meningkatkan literasi edukasi pada masyarakat.
Dijelaskan Achmad Dirgantara, jika melihat pasar dan investor, BEI tidak bosan-bosan menginformasikan pada mereka supaya bisa mengambil keputusan.
Arus Informasi yang Akurat
Terkait kemitraan dengan media, Dirgantara berharap bisa menyampaikan informasi atau berita dengan berimbang dan netral. Jangan sampai ada arus informasi yang kurang akurat, seperti contohnya terkait tangkapan layar seolah-olah ada pergantian menteri.
"Jadi sekarang dengan adanya informasi digital yang dinamis dan cepat itu memang cukup membantu, tapi juga bisa membuat problem baru. Dalam artian berita-berita informasi tersebut memang harus bisa dari sumber yang dipercaya," katanya.
BACA JUGA:Dirjen Bina Bangda Kemendagri Hadiri FGD Penyusunan Rencana Induk Pembangunan Daerah Tapanuli Utara