Inisiator gerakan ini adalah Celine Winarta, selaku Founder ACI. Awalnya ia terinspirasi dari kisah seorang teman yang mengalami buta warna, namun karena terdeteksi sejak dini, temannya tersebut dapat hidup normal dan berkembang dengan baik.
“Sebagai generasi muda, kita harus berbuat sesuatu untuk membantu teman kita, sahabat kita, dan pada akhirnya peduli kepada sesama. Tentu saja kami memiliki banyak keterbatasan, misalnya pengetahuan, pendanaan dan jaringan. Namun, untuk awal, semangat dan kepedulian menjadi energi bagi kami, yang pada akhirnya mempertemukan kami dengan dr Antonia dan dr Tigor. Intinya kita harus banyak bertanya, curious,” ujar Celine.
Beberapa waktu kemudian, Celine membaca buku “Nayan dan Misteri Warna,” yang semakin memperkaya pengetahuannya mengenai buta warna. Setelah berdiskusi dengan penulis buku, Celine bertekad melakukan sesuatu—meskipun kecil—berupa campaign untuk mengabarkan ke teman-temannya bahwa buta warna bukan akhir segalanya. Sebaliknya, buta warna tidak menjadi halangan untuk meraih sukses di masa depan, selama kita dapat mengenali dan memitigasinya dengan benar.
Buku Nayan dan Misteri Warna yang didesain colorful, diharapkan dapat membantu setiap anak mengenali dirinyaserta membantu orang tua memahami anak-anak mereka. Lebih dari itu, melalui buku sederhana itu, akan timbul kesadaran masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan mata.
BACA JUGA:77 Ribu Calon Murid Tak Diterima di Sekolah Negeri, Ini Solusi Disdik Jawa Barat
Perihal kata Nayan sendiri, kata ini diadaptasi dari bahasa Sanskerta yang artinya "penglihatan". Buku tersebut juga ditulis bukan oleh “orang biasa”, melainkan oleh dua dokter yang expert di bidangnya. Beliau adalah Dr dr Antonia Kartika, SpM(K), M Kes dan Dr dr Aaron Tigor Sihombing, Sp.U(K).
Dr. Antonia adalah Direktur Utama RS Mata Pusat Cicendo, Bandung. Selain itu, beliau juga merupakan Ketua Asosiasi Rumah Sakit Mata Indonesia (ARSAMI) dan aktif memberikan edukasi klinis serta kuliah umum bagi mahasiswa PPDS Ilmu Kesehatan Mata. Sementara itu, dr Aaron Tigor adalah Kepala Program Studi Sp-1 Urologi FK UNPAD. Keduanya berkolaborasi menulis buku tersebut dengan berbasis pada riset dan pengalaman empirik.
Lalu, mengapa kita harus peduli pada kesehatan mata sejak dini? Penelitian membuktikan bahwa 75% perkembangan otak anak dimulai dari penglihatan. Dengan demikian, bila kita memiliki teman atau kolega yang mengalami buta warna, sejatinya mereka bukannya tidak bisa mengidentifikasi secara visual, melainkan melihat atau mendefinisikan objek dengan cara yang berbeda.
Oleh karena itu, dr Antonia sangat mengapresiasi inisiatif yang dilakukan ACI, terlebih gerakan ini banyak melibatkan anak-anak muda, khususnya Gen-Z. “Tentu saja kita harus mengapresiasi setiap upaya untuk melakukan edukasi kepada anak-anak, termasuk gerakan Nayan Project ini.
BACA JUGA:77 Ribu Calon Murid Tak Diterima di Sekolah Negeri, Ini Solusi Disdik Jawa Barat
Terlebih, ini melibatkan Gen-Z yang selama ini dianggap kurang peka terhadap lingkungan di sekitarnya. Maka, melalui gerakan ini, kita optimis bahwa anak-anak muda kita memiliki kepedulian terhadap sesama. Semoga ini bisa direplikasi di banyak tempat, dan melibatkan lebih banyak anak muda lagi,” pesan Antonia.
Kick-off Nayan Project dimulai di SDN 022 Cicadas, Kota Bandung, pada Senin 15 Juni 2026, dengan target peserta siswa kelas 3, para guru, staf dan orang tua. Kegiatan hari ini dimulai dengan storytelling dari buku Nayang dan Misteri Warna, yang dibawakan oleh Celine Winarta.
Dilanjutkan dengan pemeriksaan mata oleh dokter dari RS Cicendo, kemudian pembekalan untuk guru dan orang tua, kegiatan mewarnai, dan ditutup dengan sambutan dari dr. Antonia. Meski masih berupa langkah kecil, Celine berharap aksi nyata di Cicadas hari ini, dapat meluas ke kota-kota di Jawa Barat (2027).
Selanjutnya, mereka akan membangun jaringan nasional dari sekolah-sekolah yang berkomitmen (2028), sehingga pada akhirnya setiap anak memiliki akses terhadap deteksi dini buta warna. Sekali lagi, buta warna bukan sekadar persoalan kemampuan membedakan warna. Melainkan tentang bagaimana masyarakat memberikan kesempatan yang setara bagi setiap anak untuk tumbuh dan meraih cita-citanya.
BACA JUGA:Dulu Benteng Pertahanan, Kini Pantai Kenjeran Menjelma Jadi Pusat Hiburan Modern
Semakin dini kondisi ini dikenali, semakin besar peluang bagi anak untuk beradaptasi, mengembangkan kepercayaan diri, dan mempersiapkan masa depannya dengan lebih baik. Maka dari itu, orang tua, guru, tenaga kesehatan, dan seluruh elemen masyarakat perlu bersama-sama membangun kesadaran akanpentingnya deteksi dini buta warna.