Festival telah berlangsung di Manila, Filipina (2017 dan 2018), Kamboja (2019), Malaysia (2024), dan Thailand (2025), sebelum akhirnya Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah pada 2027.
Mengusung tema Hear My Voice, penyelenggaraan SEAVFC 2027 akan mengajak anak-anak menyampaikan suara, harapan, kepedulian, dan pandangan mereka terhadap kehidupan melalui karya video.
BACA JUGA:Tony Stark Hidup Lagi? Bocoran Film Avengers: Secret Wars Ungkap Kebangkitan Iron Man
"Melalui tema Hear My Voice, kami ingin anak-anak memiliki keberanian untuk menyampaikan pandangan mereka. Orang tua, guru, dan masyarakat juga perlu memberikan ruang untuk mendengar suara anak sebagai bagian dari proses tumbuh kembang mereka," ujar Liza Maria selaku Assistant Board of Indonesia.
Untuk menjaga kualitas kompetisi, proses penjurian melibatkan profesional di bidang perfilman, penyiaran, pendidikan, dan industri kreatif.
Di Indonesia, proses kurasi dipimpin oleh Board Member Indonesia, Niniek L. Karim, bersama dewan juri yang terdiri atas Liza Maria sebagai praktisi penyiaran televisi dan pemerhati program anak, Sidi Saleh sebagai sutradara, produser film, dan sinematografer Indonesia, serta Judith J. Dipodiputro selaku Sekretaris Jenderal Badan Perfilman Indonesia (BPI) periode 2024–2026.
Penilaian dilakukan berdasarkan kekuatan storytelling, orisinalitas, kreativitas, kualitas teknis produksi, serta nilai edukasi.
BACA JUGA:Reuni Setelah 23 Tahun! Kate Winslet Resmi Gabung Film Lord of the Rings Terbaru Andy Serkis
Keikutsertaan Indonesia dalam SEAVFC terus membuahkan prestasi membanggakan.
Pada SEAVFC 2024 di Malaysia bertema Friendship in Diversity, Indonesia meraih Juara I Kategori Profesional Fiksi Usia 13–17 Tahun melalui film Tayan Tutu Anakku Satu produksi Indonesiana TV.
Indonesia juga menempatkan Munigarim Kecil Sasak sebagai finalis kategori Profesional Nonfiksi, Ako & Laut Episode 3: Monster Rawa pada kategori Aspiring Video Makers, serta Waktu Senja Kala Itu karya SMK Negeri 51 Jakarta pada kategori Children Video Makers.
Prestasi tersebut berlanjut pada SEAVFC 2025 di Thailand bertema Magic of Peace. Indonesia kembali meraih Juara I Kategori Profesional Fiksi Usia 8–12 Tahun melalui film Cipak Cipuk karya Studio Amara Kupang.
Selain itu, Indonesia juga meloloskan sejumlah karya sebagai finalis, yakni Fajar dan Penjelajah Samudera dan Ada Hantu di Menara Merdu karya Balai Media Kebudayaan, Successor of Tradition: The Boys of Merangin karya Trans7, serta Kasih Paham (Make Them Understand) karya SD Global Mandiri Cibubur.
Antusiasme peserta juga terus meningkat. Pada 2024, panitia menerima lebih dari 200 karya video dari berbagai daerah di Indonesia, sementara pada 2025 sekitar 100 karya mengikuti proses seleksi nasional.
Menjelang Indonesia menjadi tuan rumah pada 2027, panitia menargetkan sedikitnya 300 hingga 400 karya video dari seluruh Indonesia.