JAKARTA, Weradio.co.id - Limbah pertanian seperti sabut kelapa berpotensi menjadi sumber bahan baku bernilai tambah, termasuk sebagai pewarna alami untuk produk wastra.
Melihat potensi tersebut, Tim Riset Bestari Saintek Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan (Polipangkep) di bawah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengembangkan inovasi Cocodye, zat pewarna alami berbasis limbah pertanian yang ditujukan untuk memperkuat pemanfaatan potensi lokal sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi perajin.
Inovasi Cocodye merupakan pengembangan lanjutan dari program Berdikari Emas 2024-2025 dan saat ini dikembangkan melalui Program Bestari Saintek 2026 dalam Living Laboratorium The Green Gold Kelapa Selayar.
Riset tersebut berfokus pada pengembangan formulasi warna dan ketahanan warna untuk mendukung pemanfaatannya pada berbagai produk wastra.
Hingga September 2026, sekitar dua ton sabut kelapa telah diolah untuk menghasilkan pewarna alami yang digunakan pada 50 meter wastra tenun serta 220 meter wastra sutera dan batik.
Selain sabut kelapa, riset Polipangkep juga memanfaatkan limbah kulit alpukat, kulit rambutan, kulit manggis, serta kayu secang sebagai sumber pewarna alami.
“Potensi lokal Indonesia sangat besar dan dapat dikembangkan melalui pendekatan sains dan teknologi. Yang penting bukan hanya menghasilkan inovasi, tetapi bagaimana inovasi tersebut dapat diterapkan, memberikan nilai tambah bagi masyarakat, serta membuka peluang pengembangan ekonomi lokal secara berkelanjutan,” kata Direktur Minat Saintek, Prof. Yudi Darma dalam keterangan resmi yang dibaca Weradio.co.id, Rabu, 16 September 2026.
Tidak berhenti pada pengembangan teknologi, program ini juga diarahkan untuk memastikan inovasi yang dihasilkan dapat diterapkan dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Pemanfaatan bahan baku yang berasal dari potensi lokal memungkinkan perajin untuk mengembangkan produk wastra dengan alternatif pewarna alami, sekaligus membuka peluang peningkatan nilai ekonomi dari proses produksi yang mereka jalankan.
Hingga saat ini, riset tersebut telah memberdayakan perajin dari 19 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan, dengan peningkatan pendapatan perajin mencapai sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 3 juta per bulan.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa pengembangan inovasi berbasis potensi lokal dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat dan penciptaan nilai ekonomi di tingkat perajin.
“Bagi kami, keberhasilan riset tidak hanya diukur dari inovasi yang dihasilkan, tetapi dari sejauh mana inovasi tersebut dapat diterapkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Melalui pemanfaatan limbah pertanian sebagai pewarna alami, kami ingin mendorong potensi lokal menjadi sumber nilai tambah bagi perajin, sekaligus membuka peluang agar hasil riset dapat terus berkembang dan memiliki akses ke pasar,” jelas Ketua Tim Riset Bestari Saintek Polipangkep, Zulfitriany Mustaka.
BACA JUGA:Keraton Jogja Angkat Orkestra Nusantara di Jakarta, Gregah Nusa Gaungkan Kebangkitan Budaya
Mendorong Hilirisasi dari Riset ke Pasar