JAKARTA, Weradio.co.id - Persija Jakarta menyerahkan sepenuhnya kepada Komisi Disiplin (Kondisi) PSSI untuk memproses penyelesaian atas insiden yang terjadi saat Macan Kemayoran menghadapi Java United FC pada pekan ketiga Super League 2026/20270 di Stadion I Wayan Dipta, Gianyar (Bali), Sabtu, 29 September 2026.
"Klub Persija Jakarta menyerahkan sepenuhnya kepada Komdis PSSI untuk menindaklanjuti sesuai dengan ketentuan dan regulasi yang berlaku," demikian bunyi pernyataan resmi Persija yang diterima Weradio.co.id.
Klub Ibu Kota tersebut percaya bahwa setiap kejadian dapat diproses secara objektif berdasarkan fakta dan bukti yang tersedia di lapangan.
Ini merupakan pernyataan sikap resmi Persija atas pelecehan rasial yang melibatkan pelatih mereka, Shin Tae-yong.
BACA JUGA:Timnas Indonesia Gelar Latihan Bersama Perdana, Empat Pemain Masih Belum Bergabung
Pelatih asal Korea Selatan tersebut diduga mengalami pelecehan rasial saat Persija mengalahkan 1-0 Java United FC pada pekan ketiga Super League 2026/2027 di Stadion I Wayan Dipta, Gianyar (Bali), Sabtu malam, 19 September 2026.
Di tengah tensi tinggi pertandingan, terjadi keributan di pinggir lapangan. Dari rekaman video yang beredar di jagat maya, seseorang yang diduga Direktur Teknik Java United Achmad Resal Octavian beranjak dari bangku cadangan Java United FC dan kemudian mendekati bangku cadangan Persija.
Pria tersebut berteriak dan melontarkan kalimat berbau xenofobik atau rasis kepada Shin Tae-yong, yang pernah lima tahun melatih Timnas Indonesia.
"Kamu di sini itu pendatang! Ini daerah saya," teriak pria yang diduga Achmad Resal tersebut sebelum dia dilerai oleh petugas keamanan.
Otoritas sepak bola dunia atau FIFA, maupun Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) memiliki aturan tegas mengenai larangan rasisme baik yang dilakukan pemain maupun ofisial tim.
FIFA dan PSSI menerapkan kebijakan toleransi nol (zero tolerance) dan terus memperketat regulasi guna memberantas diskriminasi rasial di dalam maupun di luar lapangan hijau.
Aturan dan sanksi rasisme yang berlaku secara global dari FIFA dan diadopsi oleh PSSI di antaranya mengatur tentang sanksi skorsing minimal 10 pertandingan untuk pemain dan ofisial yang terbukti melakukan tindakan rasis.
Selain itu ada denda finansial dalam jumlah besar, penutupan sebagian area tribun stadion (biasanya tribun belakang gawang), atau pembatasan kuota penonton.