"Duri diperlukan untuk melindungi. Tetapi jangan sampai kita hanya sibuk mempertajam duri dan lupa menjaga isi di dalamnya," katanya.
Filosofi tersebut dinilai relevan dengan kehidupan berbangsa. Indonesia memiliki beragam pandangan, kepentingan, budaya, dan keyakinan, tetapi perbedaan itu semestinya tidak menghilangkan persaudaraan sebagai sesama anak bangsa.
Malam semakin larut ketika rombongan turun dari Teras 5. Mereka membawa perenungan bahwa mencintai negeri dapat dimulai dari doa, menjaga perkataan, menghormati perbedaan, dan tidak mempertajam 'duri' ketika persaudaraan membutuhkan ruang.
BACA JUGA:Aroma Wangi Bunga dan Cahaya Langit Terang Iringi Misa Gunung Padang
Di bawah cahaya bulan yang terasa tidak biasa itu, mereka menitipkan harapan, semoga Indonesia tetap terang, bersatu, dan tidak kehilangan jalan untuk pulang kepada persaudaraan.