Jalan penghubung utama dari Malinau menuju Krayan belum tersambung secara memadai (masih berlumpur, tanah), sehingga pengiriman material bangunan skala besar sangat sulit dan berbiaya sangat tinggi.
Di sisi lain, keterbatasan pengadaan material. Mengimpor atau membawa material dari luar wilayah sangat mahal melalui udara, sementara penggunaan material dari negara tetangga (Malaysia) terkendala aturan dan regulasi kepabeanan.
Longsor yang menyebabkan putusnya ruas Jalan Lingkar Krayan yang berada di perbatasan Kalimantan Utara dan Malaysia.
Imbasnya, jalur utama untuk pengiriman barang pokok dan pelintasan orang terhambat, terutama di jalur penghubung Desa Long Bawan dan Desa Long Layu.
Jalan lingkar provinsi sepanjang 80 km yang menghubungkan Kecamatan Krayan Barat, Kecamatan Krayan selatan hingga Kecamatan Krayan Tengah yang selalu lumpuh total pada musim hujan, sehingga akses darat antar kecamatan terganggu.
Dalam kondisi musim panas dapat ditempuh dalam hitungan jam. Namun dalam musim hujan dapat ditempuh berhari-hari masalahnya jalan menjadi berlumpur.
Dampaknya, harga sembako melambung tinggi. Bahan bakar minyak Rp 30 ribu per liter, semen 490 ribu per zak, gula Rp 29 ribu per kg.
BACA JUGA:Cekungan Bandung Menyongsong Era Bus Listrik, Siapkah Infrastruktur dan APBD?
Dan, yang paling parah hasil pertanian warga tidak bisa terangkut. Jadi perekonomian lumpuh total.
Warga mengancam keluar dari NKRI jika jalan tersebut tidak segera ditangani. Slogan membangun dari pinggiran hanya omon-omon.
Warga Krayan lebih murah beli sembako dari Malaysia. Jarak Krayan ke Bakelalan (Malaysia) cuma 7 km dan beraspal.
Sedangkan ke Malinau jaraknya hampir 200 km dengan jalan tanah dan menjadi lumpur saat musim hujan. Warga memilih Malaysia karena lebih mudah dan murah.
BACA JUGA:Dilema Menutup Pelintasan Sebidang, Antara Keselamatan Nyawa dan Denyut Ekonomi
Dampak Multidimensional
Kondisi infrastruktur jalan darat yang belum terhubung sepenuhnya antara Krayan (Kabupaten Nunukan) dan Malinau serta kondisi jalan internal yang masih didominasi tanah dan berlumpur telah menciptakan keterisolasian geografis ekstrem bagi masyarakat kawasan perbatasan Kalimantan Utara.