Oleh: Dr. Selamat Ginting (*)
Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan sekitar 800 perwira tinggi TNI dan Polri di Istana Negara, Rabu, 7 Oktober 2026.
Pertemuan yang berlangsung sekitar lima jam itu bukan sekadar pertemuan rutin antara Presiden dan jajaran pimpinan institusi keamanan.
Ada pesan strategis yang patut dicermati, terutama karena pertemuan tersebut dilakukan menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo - Gibran.
Prabowo menyampaikan gambaran mengenai kondisi bangsa dan negara sekaligus memberikan arahan mengenai tantangan keamanan ke depan.
BACA JUGA:Sikap Ksatria Kabais TNI, Komitmen Personal dan Institusional TNI untuk Indonesia Damai
Di antara pesan yang muncul ke publik adalah pentingnya profesionalisme, peningkatan pendidikan dan latihan, penguatan kemampuan menghadapi perang hibrida, drone, teknologi informasi dan ancaman siber.
Presiden juga menekankan agar TNI dan Polri tidak mengedepankan ego sektoral.
Kedua institusi itu diminta memperkuat kekompakan, integritas dan kesiapsiagaan, serta menjaga kepercayaan masyarakat.
Pertemuan ini menarik bukan semata karena jumlah peserta yang mencapai sekitar 800 Pati.
BACA JUGA:Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan, Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi
Namun yang lebih penting adalah siapa yang hadir dan siapa yang memberikan arahan
Presiden sebagai pemegang kekuasaan tertinggi atas TNI dan Polri berkomunikasi langsung dengan lapisan elite tertinggi kedua institusi tersebut. Plus sejumlah purnawirawan TNI dan Polri.
Konsolidasi Vertikal
Secara politik dan pertahanan keamanan, pertemuan ini dapat dibaca sebagai bentuk konsolidasi vertikal Presiden dengan elite pertahanan keamanan negara.
Hampir dua tahun pemerintahan berjalan, tentu diperlukan penyamaan persepsi mengenai arah kebijakan nasional.