Pemilik toko yang sangat terpukul itu menuturkan kepada BBC bahwa ia melihat para penjarah melalui rekaman CCTV berada di dalam tokonya selama lebih dari satu setengah jam. Selama kurun waktu tersebut, ia sama sekali tidak melihat kehadiran polisi.
Pemilik toko—yang meminta agar identitasnya tidak diungkap—mengatakan kepada BBC bahwa ia yakin mereka yang menjarah tokonya bukanlah pengunjuk rasa yang benar-benar memprotes kondisi sekolah atau biaya hidup. Menurutnya, para penjarah tersebut hanya memanfaatkan situasi demonstrasi.
Rekaman CCTV yang ditayangkan oleh saluran televisi Prancis, Channel 2, memperlihatkan sekelompok remaja—sebagian besar mengenakan masker—di sebuah toko ponsel sedang mengambil barang-barang dari rak.
Rentetan Unjuk Rasa
Unjuk rasa pelajar di Prancis telah melibatkan ratusan ribu orang yang turun ke jalan sejak dimulai pada akhir bulan lalu. Para pengunjuk rasa menuntut investasi tambahan untuk sekolah mereka, seraya mengkritik kurangnya jumlah guru dan staf, ruang kelas yang terlalu padat, serta kondisi bangunan sekolah yang rusak.
BACA JUGA:Lima Juri Akhir FFW 2026 Mulai Bekerja, Film dan Sineas Terbaik Indonesia di Tangan Mereka
Di kota Lyon, Wali Kota Grégory Doucet menyebut pembakaran kantor pariwisata kota sebagai "sebuah tragedi". Kepada media Prancis, BFMTV, ia mengatakan, "Ini sangat menyedihkan bagi kami karena bangunan tersebut merupakan bangunan bersejarah yang sangat ikonik dan terkenal."
Kepolisian setempat menyatakan bahwa ada "individu-individu yang bersikap agresif" yang menghalangi petugas pemadam kebakaran untuk memadamkan api dengan aman.
Petugas pemadam kebakaran juga berupaya memadamkan api di balai kota Limoges, yang menyebabkan sebagian bangunan tersebut runtuh. Para pejabat setempat mengatakan gedung balai kota tersebut "sebagian besar telah hancur."
Maurice Barate, prefek untuk departemen Haute-Vienne, menyatakan bahwa "sekelompok orang yang mengamuk" telah "dengan sengaja" membakar bangunan berusia 143 tahun itu.
Di tempat lain, seorang pemuda "kehilangan tangannya akibat ledakan" yang disebabkan oleh bahan peledak kecil di Saint-Étienne. Hal ini disampaikan oleh Wali Kota Régis Juanico melalui media sosial.
"Tragedi seperti ini seharusnya tidak pernah terjadi," ujarnya.