Respons Para Pemain dan Keunggulan Visual Audio
Aktris Sara Wijayanto sempat mengaku kaget dan dilanda perasaan campur aduk. Ia tidak menyangka penampilannya akan hadir di layar sebesar IMAX.
"Kaget banget pas dikasih tahu, 'Hah, di IMAX?! Oh my God!' Terus sempat kepikiran, Hah, muka kita jadi kelihatan gede banget dong nanti! Bikin insecure ya," ujarnya sambil tertawa.
Meskipun demikian, kualitas akhir film terbukti memukau. Setelah melihat pratinjau beberapa adegan klimaks, Darius menilai format IMAX menghadirkan peningkatan kualitas yang masif.
Peningkatan ini terlihat dari ketajaman visual hingga dentuman audio yang menggelegar. Hal tersebut memberikan immersive experience yang jauh lebih mendalam bagi para penonton.
Prekuel Megah Berlatar 1988 dengan Teknologi Animatronik
Disutradarai oleh Guntur Soeharjanto, The Doll Ghawiah diposisikan sebagai prekuel. Film ini menguak akar mula kutukan di semesta The Doll.
Sajian alur cerita mengambil latar waktu tahun 1988. Kisah berpusat pada keluarga Arya (Darius Sinathrya) dan Evi (Titi Kamal). Mereka memboyong anak-anaknya, Gita (Aisyah Aqilah) dan Nala (Laura Moane), untuk pindah ke Babakan Siliwangi, Bandung.
Namun, niat mencari lembaran hidup baru pasca-kebangkrutan justru berubah menjadi teror.
Nala menerima boneka misterius bernama Ghawiah dari seorang anak di tengah hutan. Kata 'Ghawiah' sendiri memiliki makna 'tersesat'.
Sebagai generasi boneka termutakhir, Ghawiah dirancang secara khusus. Produser Rocky Soraya memesan langsung bentuk fisik boneka dari perajin lokal Pak Orlando di Bali.
Selain itu, produksi menggandeng pakar animatronics asal Amerika Serikat dengan suntikan dana miliaran rupiah.
Boneka ini dibekali fitur gerak nirkabel (wireless), ekspresi, serta kostum mendetail.
Sensasi Horor Mencekam dan Aksi Skala Besar