JAKARTA, Weradio.co.id - Kapten Manchester United, Bruno Fernandes, melontarkan kritik tajam terhadap pendekatan taktis Pelatih Michael Carrick menyusul malam yang membawa bencana di kompetisi Eropa.
The Red Devils atau Setan Merah - julukan Man United - dihancurkan dengan skor 1-4 oleh klub Serie A Italia, Como, pada matchday 3 fase liga Liga Champions, Kamis, 22 Oktober 2026.
Kekalahan tersebut membuat masa depan Carrick berada di ujung tanduk, setelah tim asuhannya menampilkan performa yang minim identitas maupun agresivitas.
Saat pertandingan di Stadion Giuseppe Sinigaglia baru berjalan dua menit, gelandang Como Nico Paz sudah memaksa kiper Man United Senne Lammens memungut bola dari dalam gawangnya.
BACA JUGA:Shin Tae-yong Ungkap Kunci Kemenangan Persija Jakarta saat Pesta Gol ke Gawang Arema FC
Di babak kedua Como menghujani gawang Man United dengan tiga gol lagi melalui Anastasios Douvikas pada menit ke-48, Paz (57), dan Jacobo Ramon (76). Man United mendapatkan gol hiburan dari Joshua Zirkzee di injury time babak kedua.
Sesali kebobolan gol cepat
Sebagaimana dilansir Yahoosports seperti dikutip Weradio.co.id, Fernandes menyesali timnya kebobolan gol cepat sehingga mereka langsung merasa kalah dan kesulitan bangkit untuk menguasai bola.
Dia juga mengatakan bahwa keputusan tidak melakukan pressing atau tekanan satu lawan satu (man-to-man) adalah arahan dari staf pelatih. Ini membuat pemain Man United sering berdiri menunggu dan memberi ruang gerak terlalu luas bagi para pemain Como.
"Ini bukan yang pertama kalinya; kami mengawali pertandingan dengan buruk dan lawan mencetak gol sangat cepat," ujar Fernandes kepada TNT Sports, saat merefleksikan awal pertandingan yang kembali lamban di kompetisi kontinental.
"Tidak ada tekanan berarti terhadap lawan yang menguasai bola, kami minim pergerakan yang efektif saat menguasai bola, dan segalanya tidak berjalan sesuai harapan," ujarnya.
"Kebobolan lebih awal membuat kami memasuki pertandingan dengan mentalitas seolah sudah kalah. Sulit untuk bangkit dari kondisi itu, untuk mencoba tampil berani, menguasai bola, dan menciptakan sesuatu. Jika kami tidak mampu melakukannya, akan sangat sulit untuk keluar dari situasi ini," tuturnya.
Komentar sang kapten menyoroti keretakan yang kian melebar terkait filosofi pertahanan tim di bawah kepemimpinan Carrick. Fernandes secara khusus menyoroti keputusan untuk membiarkan lawan leluasa—alih-alih menerapkan gaya high-pressing (tekanan tinggi) yang kini banyak digunakan oleh klub-klub papan atas Eropa.
Fernandes mengatakan, "Itu adalah keputusan staf pelatih untuk tidak melakukan man-to-man marking (penjagaan ketat satu lawan satu), melainkan membiarkan ruang di lini belakang, menunggu lawan, dan mencoba merebut bola."