JAKARTA, Weradio.co.id - Ritual syukuran pemotongan domba dan doa bersama leluhur agung ternyata menyimpan dimensi batin yang mendalam.
Praktisi spiritual Cahaya Adi Wibowo menjelaskan bahwa tradisi tersebut bukan sekadar seremoni seremonial belaka, melainkan sarana transmutasi energi dan penghormatan leluhur yang sarat makna filosofis.
Menurut Cahaya Adi Wibowo, esensi utama dari pemotongan domba terletak pada simbolisme keikhlasan dan penyerahan diri.
"Domba melambangkan keikhlasan, kesucian, dan penebusan ego. Pemotongannya adalah bentuk penyerahan diri secara total serta peleburan sifat-sifat hewani dalam diri manusia menuju kesadaran yang lebih tinggi," ujar Cahaya Adi Wibowo dalam keterangan tertulis yang dibaca Weradio.co.id, Rabu, 28 Oktober 2026.
BACA JUGA:Doa Lintas Spiritualitas di Gunung Padang, Seruan Tobat Ekologis di Hari Bumi
Selain penyucian rohani, rangkaian acara yang memadukan doa bersama ini juga berfungsi sebagai jembatan penghubung frekuensi batin antara manusia dan dimensi para leluhur agung.
Penyelarasan tersebut bertujuan untuk menciptakan keharmonisan energi antara dunia nyata yang kasat mata dan alam tak kasat mata.
Cahaya Adi Wibowo menambahkan, ritual ini sekaligus menjadi wujud bakti nyata dalam mengakui garis silsilah spiritual. Dengan terhubungnya kembali jalur silsilah tersebut, restu serta bimbingan para leluhur dapat ditarik ke masa kini guna mendatangkan perlindungan, kedamaian, dan keberkahan hidup.
Lebih lanjut, persembahan yang dihadirkan dalam ritual ini merepresentasikan rasa terima kasih yang tak terhingga atas limpahan rezeki dari alam semesta.
BACA JUGA:Aroma Wangi Bunga dan Cahaya Langit Terang Iringi Misa Gunung Padang
Langkah ini sekaligus menjaga siklus timbal balik yang harmonis antara manusia, para leluhur, dan Sang Pencipta dalam menjaga keseimbangan alam.