JAKARTA, Weradio.co.id - Berawal dari balik meja operator telepon, siapa sangka jalan hidup seseorang bisa membawanya menembus gerbang Istana Kepresidenan? Perjalanan karier luar biasa inilah yang dikupas tuntas dalam bedah buku berjudul Operator Telepon Jadi Wartawan Kepresidenan: 25 Tahun Berkarya di Radio Sonora di Markas Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya, Jakarta, Jumat, 30 Oktober 2026.
Buku karya Stanislaus Jumar Sudiyana yang diterbitkan oleh Jembatan Literasi Nusantara dan disunting oleh Doktor Algooth Putranto ini merekam perjalanan seperempat abad Jumar di dunia jurnalistik.
Acara diskusi tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting pers, di antaranya Ketua PWI Jaya Kesit Budi Handoyo, Direktur Radio Sonora Viliny Lesmana, wartawan senior Mayong Suryo Laksono, serta Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Jaya, Doktor Bagus Sudarmanto.
Dalam sambutannya, Kesit Budi Handoyo mengapresiasi dedikasi Jumar yang tidak pernah memilih-milih medan liputan maupun menawar waktu saat menjalankan tugas.
BACA JUGA:OUE REIT Milik Mochtar Riady Tambah Kepemilikan di Gedung Tertinggi Sydney Senilai Rp 9,8 Triliun
Menurut Kesit, hal tersebut mencerminkan tanggung jawab sejati seorang jurnalis di tengah dinamika profesi yang penuh tantangan.
Senada dengan Kesit, Direktur Radio Sonora Viliny Lesmana menyebut Jumar sebagai sosok jurnalis berpaket lengkap yang sangat diandalkan institusinya.
Sementara itu, wartawan senior Mayong Suryo Laksono menegaskan bahwa puncak karya seorang jurnalis adalah ketika ia mampu melahirkan sebuah buku. "Pengalaman panjang seorang wartawan akhirnya terdokumentasi menjadi karya yang bisa dibaca dan diwariskan kepada generasi berikutnya," ujar Mayong.
Merawat Budaya Literasi
Mayong mengingatkan pentingnya mengembalikan tradisi membaca buku guna merawat peradaban bangsa.
BACA JUGA:Buku Perjuangan Sang Musafir, Kisah Pastor Soroti Konflik Lingkungan PT TPL di Danau Toba
Pesan tersebut disampaikan Mayong saat menyoroti pentingnya dokumentasi tertulis dan komitmen dalam merawat budaya literasi.
Menurutnya, segala gagasan yang diucapkan secara lisan mudah hilang, namun tulisan akan tetap abadi menembus waktu.
"Ada peribahasa Latin mengatakan, kata-kata terbang ditiup angin, tapi kalau ditulis menjadi permanen dalam keabadian," ujar Mayong.
Ia juga menyoroti kiprah tokoh-tokoh penggerak literasi di akar rumput, seperti Stanislaus Jumar Sudiyana, yang dinilai konsisten membangun fondasi kecintaan terhadap buku meskipun kerap dijalani dengan gaya yang santai.
BACA JUGA:Terkuak, Rahasia Musik Sore Terinspirasi dari 6 Buku Tak Terduga Ini