Silat APIK PTMA Ke-5 Resmi Dibuka

Silat APIK PTMA Ke-5 Resmi Dibuka

Rektor UHAMKA Prof Dr Gunawan Suryoputro mengungkapkan kebanggaan dan harapan atas perhelatan ini. Karena event ini mendorong dan memberikan kontribusi positif bagi pendidikan ilmu komunikasi di perguruan Muhammadiyah dan Aisyiyah.-weradio.co.id-Fisip Uhamka

Hari pertama Silat-APIK 5 diisi oleh 2 kegiatan utama. Pertama kegiatan pengurus APIK nasional periode 2026-2028. Dilantik selaku Ketua, Agus Triyono, MSi dari Universitas Muhammadiyah Surakarta. Pelantikan dilakukan oleh Prof Dr Armai Arif mewakili Majlis Dikti PP Muhammadiyah. Kedua, Seminar Internasional bertemakan Global Perspektif on Digital Ethics AI Governance and Social Inclusion. Selanjutnya, kegiatan hari pertama diakhiri oleh Gala Dinner di Aula Kampus Uhamka Jl Limau.

Seminar Internasional

Adapun seminar internasional menghadirkan pembicara. Salah satunya pembicara internasional dari Filipina yaitu Prof. Alexander G. Flor – Professor Emeritus dari Fakultas Ilmu Informasi dan Studi Komunikasi, University of the Philippines Open University.

BACA JUGA:Berkas Resmi Perkara Pidana Roy Suryo Dilimpahkan ke PN Jakarta Timur

Sedangkan pembicara lainnya adalah Prof. Dr. Gati Gayatri, M.A. – Peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Republik Indonesia, Virgandhi Prayudantoro, S.I.Kom, M.Si. – Direktur Berita di LKBN ANTARA. Serta Ismail Fahmi, MA., Ph.D. – Pendiri Media Kernels Indonesia dan Wakil Ketua Majelis Pustaka & Informasi PP Muhammadiyah.

Mengusung tema besar Komunikasi Berdampak: Mendorong Transformasi Sosial Berkelanjutan melalui Inovasi Digital yang Etis, disebutkan rangkaian kegiatan meliputi tema besar Komunikasi Berdampak Mendorong Transformasi Sosial Berkelanjutan melalui Inovasi Digital yang Etis ini, dilatarbelakangi oleh dinamika sosial global saat ini akibat percepatan transformasi digital dan tingginya adopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelleigence/AI).

Inovasi ini telah mengubah total lanskap Komunikasi global, cara manusia berinteraksi, membangun opini publik, hingga pembentukan realitas Sosial baru.

Dibalik euphoria baru tersebut, muncul tantangan Etis berupa krisis Komunikasi yang nyata seperti fenomena infodemis yang melahirkan realitas baru dimana narasi yang Viral Lebih Kuat daripada yang Valid dan Emosi lebih cepat Menyebar daripada Fakta.

BACA JUGA:Limbah Sabut Kelapa Disulap Jadi Cocopeat Bernilai Ekonomis

Ketika era digital menuntut setiap individu menjadi media, masyarakat cenderung lebih banyak bicara tetapi sedikit mendengar. Dampaknya, memuaskan disinformasi, manipulasi konten, degradasi etika publik, polarisasi sosial, hingga krisis kepercayaan (crisis of trust) menjadi hal yang tidak terhindarkan.