Ahli Pangan Kasih Analisa Penyebab Keracunan di MBG
Menu makanan yang disajikan di MBG berasal dari ikan hiu-X-
"Kemudian proses memasak makanan yang tidak matang sempurna bisa menjadi sumber bakteri patogen masih hidup terutama pangan kaya protein seperti daging dan ikan," tuturnya.
BACA JUGA:Komisi VI DPR RI Setujui RUU BUMN, Pertegas Larangan Rangkap Jabatan
Namun, panas berlebih selama memasak juga harus dipertimbangkan agar tidak hilang nutrisinya terutama yang larut air dan mudah rusak seperti vitamin C.
"Penyimpanan sebelum penyajian yang dilakukan pada suhu ruang 5-60 derajat Celcius adalah masuk ke dalam zona bahaya karena mikroba perusak maupun patogen berkembang pada suhu tersebut. Dalam artian kurang pendinginan untuk makanan dingin, atau kurang penghangatan untuk makanan panas," katanya.
Terbuka Terlalu Lama
Selain itu, lanjut dia, saat penyajian yang dilakukan pada kondisi terbuka terlalu lama akan memudahkan kontaminasi debu, serangga, maupun kontaminasi silang dari sentuhan tangan juga bisa menjadi penyebab keracunan.
"Peralatan saji seperti stainless stell lebih mudah menghantarkan panas untuk mendukung pertumbuhan mikroba kontaminasi yang ada. Terlebih penyajian dilakukan pas jadwal makan siang, sedangkan produk diolah pagi hari," ujarnya.
BACA JUGA:Pantas Saja, KSP Ungkap Jumlah Dapur MBG yang Bersertifikat Higienis
Jika terjadi kontaminasi silang maka dari pukul 06.00 WIB ke pukul 11.00 WIB, waktu penyajian sudah terjadi pertumbuhan mikroba lebih dari 10 ribu, padahal umumnya untuk terjadinya keracunan cukup 3 ribu sel patogen saja, meskipun jumlahnya bervariasi tergantung pada jenis patogen, toksin, dan kondisi individu yang terinfeksi.
Nurhayati yang juga Pengurus Pusat Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) itu menjelaskan bahwa penyebab keracunan juga bisa terjadi karena kebersihan penyaji jika tidak mencuci tangannya, tidak memakai sarung tangan atau penutup kepala sudah menjadi sumber kontaminasi silang.
BACA JUGA:DPRD Maluku dan Pemprov Teken Nota Kesepakatan KUPA-PPAP APBD 2025
"Konsumen yang mengkonsumsi makanan secara bersama-sama sebenarnya bisa menjadi kurang terkontrol higienitasnya, sehingga dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit," katanya.
Ia berharap semua pihak yang terlibat dalam penyiapan makanan MBG bisa mewaspadai titik kritis penyajian makan yakni kebersihan bahan, proses masak, penyimpanan, dan pada saat penyajian.
"Adanya kelalaian pada salah satu titik kritis maka akan berisiko keracunan makanan dan memungkinkan pula penyakit bawaan pangan meningkat seperti tipus dan diare," ucap dosen Fakultas Teknologi Pertanian Unej itu.
Sebelumnya belasan siswa Sekolah Dasar Negeri Negeri (SDN) 05 Sidomekar, Kabupaten Jember, diduga keracunan setelah menyantap menu Program Makan Bergizi Gratis di sekolah, Jumat (26/9)