JAKARTA, Weradio.co.id - Jobstreet by SEEK membagikan wawasan terbaru mengenai pentingnya menggabungkan energi talenta Gen Z dengan pengalaman profesional senior untuk memenangi masa depan dunia kerja.
Hal tersebut disampaikan oleh Chief People Officer tiket.com Dudi Arisandi dalam episode perdana podcast Power Talks by Jobstreet by SEEK, beberapa waktu lalu.
Di tengah percepatan adopsi kecerdasan buatan atau AI, banyak perusahaan mulai diam-diam menggeser rekrutmen ke profesional dari generasi yang lebih senior karena dianggap punya “wisdom” dan jam terbang. Di saat yang sama, pencari kerja muda justru khawatir tertinggal. Kenyataannya, masa depan dunia kerja justru akan dimenangi oleh organisasi yang bisa menggabungkan energi Gen Z dengan pengalaman profesional senior, bukan memilih salah satu.
Dudi Arisandi memaparkan lima strategi krusial bagi para pemimpin HR dalam menjembatani kesenjangan antargenerasi tersebut di era AI.
BACA JUGA:Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir Soroti Pentingnya Keadilan Informasi bagi Masyarakat Adat
Dudi memaparkan bagaimana para pemimpin HR dapat menjembatani kesenjangan ini dan membangun workforce yang benar-benar siap masa depan di era AI. Berikut ini lima strategi krusialnya:
1. Rekrut berdasarkan skill, bukan usia atau almamater
Banyak perusahaan masih merasakan talent shortage, sementara angka pengangguran muda juga tinggi. Masalahnya bukan jumlah pencari kerja, tetapi apakah skill mereka selaras dengan kebutuhan industri.
Dudi melihat, perusahaan yang progresif mulai bergeser dari indikator prestise ke rekrutmen berbasis skill. Di tiket.com, lowongan tidak dibatasi hanya untuk perguruan tinggi tertentu; yang utama adalah kemampuan kandidat untuk menjalankan pekerjaannya.
Untuk itu, perusahaan harus menghentikan penyaringan kandidat berdasarkan rentang usia atau reputasi kampus semata. Definisikan capability yang benar-benar dibutuhkan, lalu bangun proses seleksi dan asesmen yang menguji skill tersebut.
2. Berhenti menyalahkan Gen Z – mulai bantu mereka berkembang
Narasi bahwa Gen Z “manja”, “sulit di-manage”, atau “belum siap kerja” justru menghambat pertumbuhan perusahaan. Dudi mengingatkan agar pemimpin tidak men-generalisasi berdasarkan generasi, dan mengajak beralih dari menyalahkan menjadi mendukung: “Stop blaming, start helping.”
Menurut Dudi, yang sering kali kurang justru soft competency – kemampuan komunikasi, kolaborasi, kecerdasan emosional, rasa percaya diri, dan pengambilan keputusan – dan hal-hal ini hanya bisa tumbuh dengan bimbingan yang sengaja dirancang, bukan kritik semata.
BACA JUGA:Sejarah Media Cetak dan Perkembangannya dalam Sudut Pandang Komunikasi, Budaya, dan Media Digital