Kendati demikian, pengelolaan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan pengimbangan emisi karbon, tetapi juga mencakup pengelolaan sampah, pengurangan penggunaan material sekali pakai, serta peningkatan kesadaran seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan.
Ketua Panitia Festival Golo Koe, Romo Ivan Selman, menyampaikan hasil analisis dampak tersebut akan menjadi catatan dan bahan evaluasi bagi panitia dalam mempersiapkan penyelenggaraan Festival Golo Koe pada tahun-tahun mendatang, terutama dalam memperkuat pengelolaan sampah selama rangkaian kegiatan.
BACA JUGA:Ini Alasan Umat Katolik Diajak Terlibat Aktif dalam Politik dan Kebangsaan
“Laporan ini menjadi catatan penting bagi kami sebagai panitia untuk mengevaluasi penyelenggaraan Festival Golo Koe ke depan. Selain mempertahankan hal-hal yang sudah berjalan baik, kami juga perlu memperbaiki sejumlah aspek, terutama pengelolaan sampah. Kami berharap pada penyelenggaraan berikutnya, pengelolaan sampah dapat direncanakan dengan lebih baik melalui keterlibatan seluruh pihak, mulai dari panitia, tenant, peserta, hingga pengunjung, sehingga festival ini tidak hanya memberikan dampak positif bagi masyarakat dan perekonomian, tetapi juga semakin bertanggung jawab terhadap lingkungan,” ungkap Romo Ivan.
Hasil analisis dampak Festival Golo Koe 2026 menjadi gambaran penting mengenai potensi event budaya dalam mendukung pengembangan pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan.
Dampak ekonomi yang tercatat, tingginya keterlibatan pelaku seni budaya dan UMKM lokal, serta upaya pengukuran emisi dan penanaman pohon menunjukkan bahwa penyelenggaraan event dapat memberikan manfaat yang melampaui kegiatan itu sendiri.
Ke depan, sinergi antara pemerintah, penyelenggara, komunitas budaya, pelaku usaha, dan masyarakat diharapkan semakin memperkuat kualitas penyelenggaraan Festival Golo Koe.
Evaluasi berbasis data juga diharapkan dapat mendorong perbaikan berkelanjutan, khususnya dalam pengelolaan sampah dan lingkungan, sehingga Festival Golo Koe dapat terus berkembang sebagai salah satu daya tarik budaya yang memperkuat identitas Manggarai serta pariwisata Labuan Bajo dan Flores.