Oleh: Djoko Setijowarno (*)
Rencana pemerintah untuk memberikan subsidi ke mobil hybrid dan mobil baterai lebih baik diberikan ke daerah yang kesulitan BBM.
Kabupaten Asmat sudah memberikan contoh, di tengah kesulitan BBM, kendaraan listrik sebagai solusi bermobilitas.
Jauh sebelum kota-kota besar di Indonesia mulai sibuk membicarakan transisi energi dan insentif kendaraan listrik, sebuah kabupaten di ujung timur Indonesia telah lebih dahulu membuktikannya secara senyap.
Di atas jalan-jalan panggung yang membelah rawa, Kabupaten Asmat telah bertransformasi menjadi pelopor sejati transportasi hijau yang lahir bukan dari tren, melainkan dari kebutuhan dan adaptasi geografis yang cerdas.
Kabupaten Asmat sering dijuluki sebagai Kota Seribu Motor Listrik karena mayoritas penduduknya telah beralih ke kendaraan listrik jauh sebelum tren ini masif di kota-kota besar lain di Indonesia.
Hal ini menjadikan Asmat sebagai model sukses implementasi transportasi hijau di wilayah khusus.
Penggunaan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KMLBB) di Kabupaten Asmat, Provinsi Papua Selatan, khususnya di Kota Agats, merupakan fenomena unik yang memberikan berbagai manfaat strategis.
Mengingat karakteristik geografisnya yang didominasi oleh lahan basah dan rawa, keputusan ini membawa dampak positif.
Kota Agats dibangun di atas papan kayu atau beton (jalan panggung) karena kondisi tanah yang berawa.
Kendaraan listrik, terutama motor listrik, umumnya memiliki bobot yang lebih ringan dibandingkan kendaraan konvensional, sehingga mengurangi beban stres pada struktur jalan panggung.
Ukuran kendaraan listrik yang kompak sangat cocok dengan lebar jalan di Agats yang terbatas.
Kabupaten Asmat memiliki tantangan besar dalam distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM). Menggunakan listrik mengurangi ketergantungan pada pasokan BBM yang seringkali mahal dan sulit didistribusikan hingga ke wilayah terpencil.
Biaya pengisian daya listrik jauh lebih murah dibandingkan membeli BBM di wilayah pedalaman, yang secara langsung meningkatkan daya beli masyarakat setempat.
Sebagai wilayah yang masih memiliki ekosistem alam yang kuat, penggunaan kendaraan listrik mendukung konsep pembangunan berkelanjutan.
Menjaga kualitas udara di kawasan permukiman yang padat. Kendaraan listrik sangat senyap, sehingga tidak mengganggu ketenangan lingkungan dan ekosistem sekitar.