BBCA Diborong Direksi saat Harga Turun
Di tengah fluktuasi pasar awal tahun 2026, alih-alih bersikap defensif, jajaran petinggi BCA justru agresif menyerok saham mereka sendiri.-weradio.co.id-Bank BCA
Artinya, investor hanya membayar 15 tahun laba untuk memiliki bank terbesar, paling efisien, dan paling konsisten mencetak keuntungan di Indonesia.
BACA JUGA:DRT SHOW Tanamkan Gen Konservasi demi Keberlanjutan Perairan Biru bagi Generasi Mendatang
Sekarang, bandingkan dengan Bank Jago (ARTO). Saham ARTO diperdagangkan di sekitar PER 64 kali. Dengan kata lain, investor harus membayar valuasi lebih dari 4 kali lebih mahal dibanding BBCA untuk setiap Rp 1 laba yang dihasilkan.
Yang membuat situasinya terasa 'gila' adalah kemampuan mencetak laba antara kedua bank tersebut sangat berbeda. BCA sudah terbukti mampu menghasilkan laba puluhan triliun rupiah secara konsisten dan bertumbuh cepat.
Bahkan bila dibandingkan dari kemampuan memperbesar laba 5 kali lipat, secara realistis BCA justru berpotensi mencapainya lebih cepat dibanding ARTO karena basis bisnisnya sudah besar, jaringan kuat, CASA dominan, dan profit terus naik setiap tahun.
Jadi pertanyaannya sederhana: mengapa bank digital yang masih jauh lebih kecil, labanya lebih rendah, dan risikonya lebih tinggi justru dihargai 64 kali laba, sementara BCA yang jauh lebih mapan hanya dihargai 15 kali laba? Fenomena inilah yang disebut 'salah harga'.
BACA JUGA:Debut di ICE BSD, DRT SHOW Indonesia 2026 Membangun Dekade Emas Industri Kelautan Indonesia
Pasar seolah sedang memberi diskon besar kepada saham BBCA. Ketika investor mulai menyadari ketimpangan ini, biasanya yang terjadi adalah valuasi BBCA akan naik kembali menuju level yang lebih wajar.
Potensi Capital Gain Besar di Depan Mata
Valuasi murah ini dikombinasikan dengan sinyal akumulasi 'orang dalam' hanya bermuara pada satu kesimpulan: saham BBCA sedang memasang kuda-kuda untuk rebound kencang.
Mengambil BBCA di harga sekarang ibarat membeli properti premium di lokasi terbaik saat sedang dijual diskon.
Jika BBCA saja kembali dihargai sedikit lebih tinggi, misalnya PER 18–20 kali seperti rata-rata historisnya, maka harga sahamnya berpotensi naik signifikan dari level sekarang.
BACA JUGA: Wajib Hadir di ICE BSD! Ini 4 Alasan DRT SHOW 2026 Jadi Surga Pencinta Dunia Bawah Laut
Target menembus Rp10.000 per lembar dalam beberapa bulan menjadi skenario yang sangat realistis.
Jangan lupa, rekor All Time High saham ini pernah nyaris menyentuh Rp 11.000 per lembar. Artinya, ruang kenaikan masih terbuka lebar. Risiko relatif kecil karena fundamentalnya sangat kuat, sementara potensi keuntungannya besar karena valuasinya masih terlalu murah.