Uang Terancam Amblas Tergerus Inflasi? Ini Bocoran Strategi Lipat Gandakan Aset di Era Digital
B Hari Mantoro, Komisaris PT Aldiracita Sekuritas Indonesia sekaligus Asesor Profesi Pasar Modal memberikan edukasi di sela Diskusi Literasi Keuangan Mahasiswa yang bertajuk Menangkap Peluang Investasi Saham, Kripto, dan Komoditas di Jakarta, Rabu, 8 Juli-Weradio.co.id-Rio Winto
"Angka tersebut mencerminkan keuntungan modal (capital gain) sebesar 3.989 persen, belum termasuk dividen tunai yang rutin dibagikan setiap tahun," tutur Hari.
Bagi mereka yang menyukai dinamika tinggi, emiten sektor energi terbarukan seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) juga mencatatkan performa memukau sejak IPO pada Oktober 2023 di harga Rp 780 per saham.
Meski sempat mengalami suspensi perdagangan beberapa kali akibat volatilitas pasar, harga sahamnya bertengger di level Rp 3.090 per saham per 30 Juni 2026, menghasilkan keuntungan modal hingga 296 persen atau setara 98 persen per tahun.
Investasi Bukanlah Perjudian
Meski menjanjikan imbal hasil tinggi, sebagian masyarakat masih kerap menyamakan investasi dengan judi. Padahal, merujuk pada prinsip keuangan yang sehat, kedua aktivitas ini bertolak belakang.
BACA JUGA:Gurita Bisnis Beckham, Mantan Bintang Sepak Bola yang Kini Jadi Miliarder Baru
Investasi adalah kegiatan menaruh modal berdasarkan keahlian, analisis laporan keuangan (fundamental), serta grafik pergerakan harga (teknikal) yang dapat dipelajari secara ilmiah demi memitigasi risiko.
Sebaliknya, perjudian sepenuhnya bertumpu pada spekulasi instan, minim pertimbangan logis, serta didominasi oleh faktor emosi dan persepsi sesaat.
Kabar baiknya, iklim investasi di Indonesia kini kian sehat berkat reformasi regulasi yang progresif pada awal 2026.
Menyusul peringatan dari lembaga indeks global MSCI terkait transparansi kepemilikan saham publik (free float), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) segera membenahi struktur pasar.
BACA JUGA:Pelabuhan Tanjung Priok Disorot, Pemerintah Kejar Normalisasi Logistik Nasional
Regulator kini menetapkan aturan baru. Pertama, peningkatan batas minimum porsi saham free float dari semula 7,5 persen menjadi 15 persen.
Kedua, kewajiban transparansi bagi kepemilikan saham di atas 1 persen guna mengantisipasi konsentrasi kepemilikan saham yang berlebih (high shareholding concentration).
Ketiga, porsi penjatahan saham IPO untuk investor ritel ditingkatkan hingga maksimal 50 persen (rasio 1:1 dengan non-ritel) apabila minat masyarakat membludak.
Keempat, kewajiban bagi emiten baru untuk memiliki sekurang-kurangnya 5.000 investor unik yang memiliki Single Investor Identity (SID).