Uang Terancam Amblas Tergerus Inflasi? Ini Bocoran Strategi Lipat Gandakan Aset di Era Digital
B Hari Mantoro, Komisaris PT Aldiracita Sekuritas Indonesia sekaligus Asesor Profesi Pasar Modal memberikan edukasi di sela Diskusi Literasi Keuangan Mahasiswa yang bertajuk Menangkap Peluang Investasi Saham, Kripto, dan Komoditas di Jakarta, Rabu, 8 Juli-Weradio.co.id-Rio Winto
JAKARTA, Weradio.co.id - Di tengah pesatnya arus transformasi ekonomi digital, menyimpan uang secara konvensional di bawah bantal atau sekadar di tabungan biasa kini dinilai tidak lagi cukup untuk mengamankan masa depan finansial.
"Ancaman inflasi yang terus mengintai secara perlahan menggerogoti daya beli masyarakat dari tahun ke tahun," ujar B Hari Mantoro, Komisaris PT Aldiracita Sekuritas Indonesia sekaligus Asesor Profesi Pasar Modal di sela Diskusi Literasi Keuangan Mahasiswa yang bertajuk Menangkap Peluang Investasi Saham, Kripto, dan Komoditas di Jakarta, Rabu, 8 Juli 2026.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) selama satu dekade terakhir (2016–2025), rata-rata inflasi Indonesia bertahan di angka 2,8 persen, dengan lonjakan tertinggi mencapai 4,21 persen pada 2022. Dampak nyata dari penurunan nilai mata uang ini sangat terasa pada harga barang pokok dan tersier di sekitar kita.
Sebagai contoh konkret, pada 1991, sebuah mobil Toyota Kijang Super Chassis dapat dibawa pulang dengan harga Rp 24,5 juta saja.
Namun, 34 tahun kemudian, tepatnya pada 2026 ini, harga tipe penerusnya, Innova Zenix, telah melambung hingga Rp 438 juta, mengalami kenaikan fantastis sebesar 17,8 kali lipat.
"Untuk mempertahankan daya beli, masyarakat diimbau untuk segera beralih dari budaya menabung (saving) ke budaya berinvestasi (investing)," jelas Hari.
Komoditas pelindung nilai (safe haven) seperti emas telah membuktikan performanya yang luar biasa.
Pada 2000, harga emas per gram hanya berada di kisaran Rp 72.000. Kini, pada 2026, harga logam mulia tersebut telah menyentuh angka Rp 2.520.000 per gram, atau meroket sebesar 35 kali lipat dalam kurun waktu 25 tahun.
BACA JUGA:Keluar dari Pengaruh Sang Ayah, James Murdoch Borong New York Magazine Senilai Rp 4,7 Triliun
"Selain emas, pasar modal menyajikan ladang pertumbuhan aset yang jauh lebih agresif melalui kepemilikan saham perusahaan publik secara legal," kata Hari.
Investasi pada emiten berfundamental kuat terbukti mampu menghasilkan imbal hasil (return) ribuan persen dalam jangka panjang.
Sebagai contoh, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang melantai (Initial Public Offering/IPO) pada Mei 2000 dengan harga perdana Rp 1.400 per saham.
Melalui serangkaian aksi korporasi pemecahan saham (stock split) pada 2001 (rasio 1:2) dan tahun 2021 (rasio 1:5), nilai investasi awal sebesar Rp 1,4 juta (untuk 10 lot) kini telah berkembang biak menjadi Rp 57,25 juta per 30 Juni 2026.
BACA JUGA:Cari Cuan Baru, Miliarder Thailand Nekat Lepas Aset Properti Eropa Senilai Rp 5,5 Triliun