Respons Lamban, Anak 7 Tahun Kena DBD, Warga Kampung Sawah Indah Lakukan Fogging Mandiri

Respons Lamban, Anak 7 Tahun Kena DBD,  Warga Kampung Sawah Indah Lakukan Fogging Mandiri

Warga Kampung Sawah Indah, Kelurahan Pulogebang, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, melakukan fogging mandiri setelah seorang anak berusia tujuh tahun terjangkit DBD dan dirawat di rumah sakit.-Weradio.co.id-Ayub Mauliate Sihombing

JAKARTA, Weradio.co.id - Warga Kampung Sawah Indah, Kelurahan Pulogebang, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, melakukan fogging mandiri setelah seorang anak berusia tujuh tahun terjangkit Demam Berdarah Dengue (DBD) dan menjalani perawatan intensif di salah satu rumah sakit di wilayah Jakarta.

Peristiwa tersebut memicu kekhawatiran masyarakat setempat terhadap potensi penyebaran penyakit yang lebih luas, terutama di lingkungan padat penduduk yang dinilai memiliki sejumlah titik rawan perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti.

Menurut keterangan warga, laporan kasus DBD telah disampaikan kepada pihak terkait.

Namun hingga beberapa waktu setelah laporan dibuat, tindakan pencegahan berupa fogging belum juga dilakukan secara resmi.

BACA JUGA:Romo Yos Bintoro Serahkan Buku, KSAD Dukung Pelayanan Keuskupan TNI - Polri

“Kami khawatir akan muncul korban lain, apalagi anak-anak lebih rentan. Karena itu, warga berinisiatif melakukan fogging secara mandiri,” ujar Sukaya, orang tua pasien DBD, Minggu, 12 April 2026.

Inisiatif tersebut dilakukan secara swadaya, mulai dari pengumpulan dana, penyediaan alat, hingga pelaksanaan penyemprotan di sejumlah titik lingkungan. Langkah ini diambil sebagai upaya darurat untuk menekan potensi penyebaran penyakit.

Meski demikian, warga menilai tindakan mandiri tersebut tidak seharusnya menjadi solusi utama.

Mereka berharap adanya respons cepat dan proaktif dari pemerintah dalam menangani kasus DBD, termasuk fogging, pemeriksaan jentik, serta edukasi kesehatan kepada masyarakat.

BACA JUGA:Dituding Abaikan Warga, Lurah Cililitan Buka Suara Soal Kasus PGC

Selain itu, kondisi lingkungan seperti genangan air di beberapa titik serta perubahan cuaca turut dinilai meningkatkan risiko penyebaran DBD.

Warga juga mengimbau masyarakat untuk memperkuat langkah pencegahan melalui gerakan 3M, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, serta mendaur ulang atau menyingkirkan barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

Saat ini, kondisi anak yang terjangkit DBD tersebut masih dalam penanganan Tim medis.

Warga berharap tidak ada tambahan kasus serupa dan meminta pihak terkait segera mengambil langkah konkret guna mencegah penyebaran lebih lanjut.