Rekam Jejak Majapahit di Tegalsari, Tim Sirnah Gali Temui Juru Kunci Pesarean Yudo Kardono

Rekam Jejak Majapahit di Tegalsari, Tim Sirnah Gali Temui Juru Kunci Pesarean Yudo Kardono

Pesarean Eyang Yudo Kardono -Weradio.co.id-IST Google

SURABAYA, Weradio.co.id – Perjalanan panjang Kerajaan Majapahit masih banyak menyimpan berbagai kisah sejarah di tengah masyarakat hingga sekarang.

Salah satunya adalah kisah Eyang Yudo Kardono, tokoh yang dipercaya sebagai Panglima Perang Majapahit dan makamnya berada di Jalan Cempaka Nomor 25, Kecamatan Tegalsari, Surabaya, Jawa Timu.

Untuk menggali lebih dalam cerita sejarah tersebut, Tim Napak Tilas Sirnah Gali mengunjungi kompleks Pesarean Yudo Kardono, Jumat, 9 Oktober 2026, sekaligus mewawancarai juru kunci dan menelusuri silsilah keluarga yang berkembang secara turun-temurun.

Kegiatan tersebut dilakukan oleh Tim Napak Tilas Sirnah Gali bersama Didik Djatmiko, Erfan Pratama, dan keluarga.

BACA JUGA:Wali Kota Dukung Gunung Sahari Selatan, Sinlamba Batavia Jadi Sorotan

Dalam kunjungan itu, rombongan menggali keterangan dari Sumali, 86 tahun, yang telah menjaga Pesarean Eyang Yudo Kardono selama hampir 21 tahun.

Wawancara membahas asal-usul pesarean, kisah tokoh Majapahit, peninggalan di kompleks makam, serta tradisi masyarakat yang masih berlangsung hingga kini.

Kisah Panglima Perang Majapahit

Berdasarkan informasi pada portal cagar budaya Pemerintah Kota Surabaya, Eyang Yudo Kardono juga dikenal dengan nama Kudo Karjono atau Kuda Karjana.

Ia dipercaya sebagai panglima perang pada masa pemerintahan Raja Jayanegara, yang memerintah Majapahit pada 1309–1328 Masehi.

BACA JUGA:Dari Sunter, Sinlamba Batavia Siap Tampil dalam Event Internasional AIESEC

Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, Kudo Kardono mendapat tugas menjaga wilayah pesisir utara, termasuk Surabaya, Gresik, dan sekitarnya.

Namanya juga dikaitkan dengan peristiwa pemberontakan Ra Kuti dan Nambi pada masa pemerintahan Jayanegara.

Setelah menjalankan tugasnya, ia disebut mendapat wilayah yang kemudian dikenal sebagai Tegal Bobot Sari, yang sekarang menjadi kawasan Tegalsari.

Kisah tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam penelusuran Tim Napak Tilas Sirnah Gali.