Gereja Hadir di IKN, Romo Yos Minta Pembangunan Harus Berpihak pada Martabat Manusia

Gereja Hadir di IKN, Romo Yos Minta Pembangunan Harus Berpihak pada Martabat Manusia

Kunjungan pastoral Kardinal Suharyo di Balikpapan dan IKN dijadwalkan berlangsung hingga Kamis, 22 Oktober 2026, dengan sejumlah agenda pastoral dan silaturahmi bersama unsur Gereja serta institusi negara di Kalimantan Timur.-Weradio.co.id-Dar Edi Yoga

Gereja, kata Romo Yos, tidak hadir untuk mengambil alih tugas negara. Gereja hadir memberikan pelayanan rohani, membangun persaudaraan dan ikut merawat nilai-nilai kemanusiaan.

BACA JUGA:Romo Yos Bintoro Serahkan Buku, KSAD Dukung Pelayanan Keuskupan TNI - Polri

"Gereja tidak mengambil alih peran negara. Gereja hadir sebagai sahabat perjalanan manusia. Kita mendampingi umat agar dalam menjalankan tugas dan pengabdiannya, mereka tetap memiliki hati nurani, integritas dan kepedulian terhadap sesama," ujarnya.

Gereja Hadir di Tengah Indonesia yang Bertumbuh

Kunjungan pastoral Kardinal Suharyo di Balikpapan dan IKN dijadwalkan berlangsung hingga Kamis, 22 Oktober 2026, dengan sejumlah agenda pastoral dan silaturahmi bersama unsur Gereja serta institusi negara di Kalimantan Timur.

Kunjungan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pelayanan pastoral OCI tidak berjalan sendiri. Kehadiran Gereja dibangun melalui komunikasi dan kerja sama dengan berbagai pihak yang memiliki tanggung jawab bersama dalam menjaga kehidupan masyarakat dan bangsa.

Di kawasan IKN yang tengah bertumbuh, kehadiran seorang gembala Gereja membawa pesan bahwa masa depan Indonesia bukan hanya dibangun melalui beton, baja dan teknologi.

BACA JUGA:Cahaya Tak Biasa di Gunung Padang, Ini Pesan Doa Rombongan PWI untuk Negeri

Ada manusia yang harus dihormati. Ada keluarga yang harus didampingi. Ada masyarakat yang membutuhkan keadilan. Dan, ada alam yang harus dirawat.

Romo Yos menegaskan, pembangunan yang sejati harus mampu mempertemukan kemajuan dengan kemanusiaan.

"Kota bisa dibangun dengan beton dan baja. Tetapi kehidupan bersama yang bermartabat tidak bisa dibangun hanya dengan itu. Dibutuhkan persaudaraan, keadilan, kepedulian dan tanggung jawab terhadap ciptaan," katanya.

Karena itu, kunjungan pastoral Kardinal Suharyo ke IKN menjadi lebih dari sekadar perjalanan seorang pemimpin Gereja.

BACA JUGA:Peristiwa Bersejarah, Indonesia Tampil Perdana di Pameran 100 Gua Natal di Vatikan

Dia menjadi tanda kehadiran Gereja untuk berjalan bersama bangsa, khususnya mereka yang berada di garis pengabdian negara.

Di tengah lahirnya ibu kota baru Indonesia, Gereja pun menemukan ruang baru untuk menghadirkan pelayanan, persaudaraan dan nilai-nilai kemanusiaan.