Nayan Project: Inisiatif Bersama Cerahkan Masa Depan Anak Indonesia
Anak Cerah Indonesia (ACI) bekerja sama dengan RS Mata Cicendo dan Panon Mahia Nusa ingin mengenalkan dan meningkatkan pemahaman tentang buta warna melalui pendekatan yang menyenangkan, inklusif dan inspiratif.-weradio.co.id-RS Mata Cicendo
BANDUNG, Weradio.co.id - Buta warna atau color vision deficiency adalah kondisi ketika seseorang mengalami kesulitan membedakan warna tertentu, terutama merah dan hijau. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh gangguan pada sel kerucut (cone cells) di retina mata.
Meskipun sering dianggap sebagai 'gangguan ringan', hal ini dapat memengaruhi pendidikan, pilihan karier, hingga aktivitas sehari-hari. Secara global, sekitar 8% laki-laki dan 0,5% perempuan mengalami buta warna merah-hijau bawaan. Perbedaan ini terjadi karena gen penyebab buta warna berada pada kromosom X, sehingga laki-laki lebih rentan untuk mewarisi kondisi tersebut.
Sementara itu, di Indonesia, angka prevalensinya bervariasi. Data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes menunjukkan prevalensi sekitar 0,7%. Namun, berbagai penelitian pada populasi sekolah dan masyarakat menemukan angka antara 2–5%, dengan dominasi kasus pada anak laki-laki.
Kasus di Jakarta menunjukkan prevalensi 3,79%, sedangkan penelitian pada siswa sekolah dasar di beberapa daerah menunjukkan prevalensi sekitar 2–3%. Penyebab utama buta warna adalah faktor genetik yang diturunkan dari orang tua. Namun, kondisi ini juga dapat muncul akibat penyakit mata, gangguan saraf optik, penuaan, cedera otak, atau efek samping obat tertentu.
BACA JUGA:Erling Haaland Berharap Dua Golnya di Piala Dunia Membuat Rakyat Norwegia Rayakan Pesta
Meski berpengaruh pada masa depan dan karier, sejauh ini edukasi terkait buta warna masih minim. Oleh karena itu, orang tua dan guru perlu memahami tanda-tanda awal, seperti anak sering salah menyebut warna, kesulitan mengikuti pelajaran yang menggunakan kode warna, atau mengalami kebingungan saat membaca peta dan grafik berwarna.
Pemeriksaan sederhana menggunakan tes Ishihara dapat dilakukan sejak usia sekolah dasar untuk mendeteksikondisi ini lebih awal. Dengan mengetahui kondisi buta warna sejak dini, anak dapat memperoleh pendampingan yang tepat.
Mereka dapat belajar menggunakan simbol, pola, atau label sebagai pengganti kode warna, memanfaatkan teknologi digital untuk membantu mengidentifikasi warna, serta merencanakan pilihan pendidikan dan profesi secara realistis.
Deteksi dini bukan untuk membatasi masa depan anak, melainkan untuk memberikan informasi yang memadai agar mereka mampu beradaptasi, mengembangkan potensi secara optimal, dan memitigasi hambatan yang mungkin muncul di kemudian hari.
Kesadaran sejak usia dini akan membuat anak memahami bahwa buta warna bukanlah kekurangan yang menghalangi prestasi, melainkan kondisi yang dapat dikelola dengan pengetahuan dan strategi yang tepat.
Dalam upaya mendorong edukasi dini mengenai buta warna, Anak Cerah Indonesia (ACI), sebuah komunitas anak-anak muda, meluncurkan inisiatif bersama dalam wadah Nayan Project. Tagline gerakan ini adalah, “Deteksi dini buta warna untuk generasi cerah Indonesia”.
Melalui inisiatif ini, ACI yang bekerja sama dengan RS Mata Cicendo dan Panon Mahia Nusa ingin mengenalkan dan meningkatkan pemahaman tentang buta warna melalui pendekatan yang menyenangkan, inklusif dan inspiratif.
ACI memiliki tiga misi, pertama, awareness dan edukasi terhadap masalah anak dan kesehatan. Kedua, menjadi wadah bagi anak muda yang ingin berperan dalam masyarakat sebagai relawan. Ketiga, melakukan gerakan nyata untuk membantu dalam hal kesehatan anak.