Angkutan Pelajar Aman, Menjaga Keselamatan Siswa, Menghidupkan Angkutan Pedesaan Kabupaten Magelang
Djoko Setijowarno-Weradio.co.id-Djoko Setijowarno
Sekitar 37% siswa merasa kurang nyaman akibat kondisi kendaraan yang berdesakan serta sikap pengemudi yang kurang ramah.
BACA JUGA:Antisipasi Kenaikan Harga BBM Tahun 2027
Keberadaan program ini terbukti sangat krusial; apabila fasilitas layanan ini ditiadakan, sebanyak 86,67% siswa menyatakan harus kembali diantar menggunakan sepeda motor oleh orang tua.
Terkait kepuasan umum, mayoritas siswa menilai waktu tunggu tergolong singkat yakni 5–10 menit (53%), dan sebagian besar menganggap pelayanan sopir sudah baik (83%).
Kendati demikian, harapan utama para siswa ke depan meliputi penambahan armada (50%), perluasan operasional pada hari Sabtu, serta peningkatan keramahan dan kebiasaan pelayanan dari para pengemudi.
Program ini memberikan dampak ekonomi dan psikologis yang sangat positif bagi para orang tua murid, yang mayoritas berada pada kelompok penghasilan menengah ke bawah (Rp 500 ribu-Rp 1 juta per bulan).
BACA JUGA:Pentingnya Membangun Budaya Keselamatan Lalu Lintas Sejak Usia Dini
Mereka merasakan penghematan biaya transportasi yang signifikan, di mana 40% di antaranya mengalami efisiensi pengeluaran hingga 41%–50%.
Dari sisi efisiensi dan keamanan, seluruh orang tua (100%) sepakat bahwa program ini memangkas beban waktu antar-jemput, sekaligus memberikan rasa aman dan tenang saat melepas anak-anak mereka menggunakan moda transportasi publik.
Selaras dengan aspirasi siswa dan pengemudi, mayoritas orang tua turut menekankan pentingnya penambahan jumlah armada (67%) serta perluasan hari operasional hingga hari Sabtu.
Dampak bagi Angkutan Pedesaan
Program ini berhasil merevitalisasi dan mempertahankan armada angkutan pedesaan eksisting agar tetap beroperasi secara berkelanjutan di tengah penurunan minat masyarakat terhadap transportasi publik.
BACA JUGA:Reaktivasi Jalan Rel Kereta Api Jadi Kunci Pemerataan, Merajut Konektivitas, dan Memacu Pertumbuhan
Armada angdes tidak kehilangan fungsinya sebagai angkutan umum reguler. Di luar jam antar-jemput sekolah (pagi saat berangkat dan siang saat pulang), pengemudi tetap bebas beroperasi mengangkut penumpang umum sesuai trayek resminya.
Bagi angkutan pedesaan di Kabupaten Magelang, Program APA bukan hanya sekadar skema penugasan sosial, melainkan solusi ekonomi yang memberikan kepastian pendapatan, jaminan biaya operasional, dan kepastian masa depan armada di tengah tantangan modernisasi transportasi daerah.