Krisis Energi dan Urgensi Reformasi Transportasi Umum
Ilustrasi Model Kebijakan Pengendalian Konsumsi BBM di Sejumlah Negara-Weradio.co.id-Kompas
Oleh: Djoko Setijowarno (*)
Transportasi umum sejatinya adalah kebutuhan dasar warga yang wajib dipenuhi oleh negara.
Urgensinya akan semakin nyata dan sangat terasa manfaatnya, terutama saat dunia tengah dihantam krisis energi global.
Krisis energi yang melanda mayoritas negara di dunia merupakan dampak langsung dari eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Jika menilik kebijakan yang diambil membatasi konsumsi BBM dengan berbagai kebijakan adalah negara yang transportasi umumnya buruk.
Pakistan melakukan pengurangan hari kerja menjadi empat hari dalam seminggu, memotong tunjangan BBM sebesar 50 persen selama dua bulan untuk departemen pemerintah.
Mesir, menaikkan harga BBM bertahap hingga 30 persen. India, memperketat pengendalian gas alam dan gas masak, mengurangi subsidi energi.
Thailand, menganjurkan pegawai negeri bekerja di rumah, membatasi penggunaan penyejuk ruangan di kantor pemerintahan, membatasi perjalanan ke luar negeri bagi pejabat pemerintah.
Vietnam, mengimbau karyawan bekerja dari rumah, membatasi penggunaan kendaraan pribadi.
Filipina, memberlakukan empat hari kerja dalam seminggu, mengurangi konsumsi BBM dan listrik semua lembaga pemerintah sebanyak 10 - 20 persen.
Di sisi lain, negara-negara dengan sistem transportasi publik yang mapan menerapkan strategi yang lebih progresif. Korea Selatan, misalnya, secara dinamis melakukan penyesuaian harga BBM domestik, sementara Jepang siap melepas cadangan minyak demi menjaga stabilitas.
Bahkan, Australia melangkah lebih jauh dengan menggratiskan layanan angkutan umum untuk mendorong peralihan moda secara masif.
Pemerintah Indonesia menetapkan 8 kebijakan hemat energi sebagai respons terhadap dinamika global, termasuk perang Iran-Israel.
Salah satu kebijakannya, pemerintah melakukan efisiensi mobilitas, termasuk pembatasan penggunaan kendaraan dinas hingga 50 persen, kecuali untuk operasional tertentu dan kendaraan listrik. ASN juga didorong beralih menggunakan transportasi publik.
Hingga saat ini, hanya sistem transportasi umum di Jakarta yang dianggap mumpuni secara kualitas maupun kuantitas yang benar-benar siap.