Pengembangan Padi Biosalin, PGN-BRIN Tingkatkan Produktivitas dan Nilai Ekonomi Pesisir Batang
Program yang dijalankan melalui corporate social responsibility (CSR) PGN ini menjadi upaya kolaboratif untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui pemanfaatan lahan salin yang produktif dan berkelanju-weradio.co.id-PT. PGN Tbk
BACA JUGA:Jobstreet by SEEK Ungkap Pentingnya Program Magang yang Adil untuk Menarik Talenta Masa Depan
Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN RI Dr. Yopi, M.Si., mengatakan bahwa Program Minapadi Salin menunjukkan bahwa hasil riset dapat diimplementasikan secara nyata untuk menjawab tantangan di lapangan, khususnya pada lahan pesisir dengan tingkat salinitas tinggi. Menurutnya, pendekatan ini tidak hanya memulihkan produktivitas lahan, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi kawasan.
“BRIN tidak ingin hasil riset hanya berhenti di laboratorium, tetapi harus hadir di tengah masyarakat dan menjadi solusi nyata bagi persoalan daerah,” kata Yopi. Sementara itu Corporate Secretary PGN, Fajriyah Usman, menyatakan bahwa sebagai Subholding Gas Pertamina, PGN tidak hanya berfokus pada penyediaan energi, tetapi juga berkomitmen menciptakan nilai tambah bagi masyarakat melalui program pemberdayaan yang berkelanjutan.
Dengan budidaya padi biosalin di lahan terdampak salinitas di wilayah pesisir yang dipadukan dengan pemeliharaan ikan nila salin dalam satu hamparan lahan, serta diperkuat dengan budidaya rumput laut diharapkan dapat menjadi komoditas alternatif bernilai ekonomi.
“Program Minapadi Salin merupakan wujud nyata komitmen tersebut, dengan mengintegrasikan inovasi pertanian dan perikanan, termasuk pengembangan komoditas rumput laut, untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional,” ujar Fajriyah.
BACA JUGA:Nayan Project: Inisiatif Bersama Cerahkan Masa Depan Anak Indonesia
Dengan dukungan teknologi pertanian berbasis riset yang dikembangkan BRIN, program ini menargetkan produktivitas padi mencapai 6-7 ton per hektare. Sementara itu, benih ikan nila salin diharapkan menghasilkan panen dengan bobot rata-rata sekitar 300 gram per ekor. Adapun budidaya rumput laut diharapkan dapat memberikan tambahan pendapatan melalui pola panen berkelanjutan yang relatif
singkat.
Ke depan, program ini juga akan diperkuat dengan penanaman mangrove di kawasan pesisir sekitar lokasi budidaya sebagai upaya mitigasi abrasi pantai sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.
“Kami ingin memastikan bahwa manfaat program ini tidak hanya dirasakan pada saat panen, tetapi juga memberikan dampak jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat. Dengan pendekatan terintegrasi antara pertanian, perikanan, dan pelestarian ekosistem pesisir, kami berharap tercipta keseimbangan antara peningkatan produktivitas, penguatan ekonomi masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan,” tutup Fajriyah.