CFO di Indonesia Perlu Jembatani Kesenjangan Tata Kelola Korporasi Melalui AI dan Pengembangan Talenta

CFO di Indonesia Perlu Jembatani Kesenjangan Tata Kelola Korporasi Melalui AI dan Pengembangan Talenta

CFO Program Leader, Deloitte Southeast Asia Ho Kok Yong menilai, disrupsi geopolitik yang terjadi belakangan ini semakin menegaskan satu hal: dalam kondisi penuh gejolak, komite audit tidak sekadar membutuhkan lebih banyak data.--Facebook

Meski demikian, kesenjangan ekspektasi masih terjadi: di saat 62 persen anggota Komite Audit menginginkan pembaruan informasi secara berkala hingga berkelanjutan, baru 36 persen CFO yang menyampaikan informasi pada frekuensi tersebut.

Tantangannya sekarang bukan lagi pada minimnya data, melainkan bagaimana menyajikan insight yang tepat dan relevan secara lebih dini agar dapat memengaruhi pengambilan keputusan strategis. Tanpa terjebak pada kondisi sebaliknya, yaitu membanjiri komite audit dengan informasi operasional yang tidak diperlukan.

BACA JUGA:Puspsi TNI dan Kodim 1612/Manggarai serta Yonif TP 834/WM Berikan Trauma Healing untuk Penyintas Gempa NTT

“Apa yang kami amati dari perusahaan-perusahaan di Indonesia saat ini adalah bahwa komite audit tidak lagi ingin menunggu hingga laporan kuartalan selesai. Mereka ingin mengetahui sejak dini, apa yang berubah, di mana letak ketidakpastiannya, serta keputusan tertunda mana yang berpotensi membesar menjadi masalah serius," kata Liana Lim, CFO Program Leader, Deloitte Indonesia.

"Ini merupakan perkembangan positif, karena menunjukkan bahwa tata kelola perusahaan di Indonesia semakin matang," ucapnya. "Namun, kondisi ini juga menuntut peran CFO yang berbeda: tidak lagi sekadar penyaji angka, melainkan penghubung strategis yang mampu membaca situasi dan memberikan insight secara tepat waktu."

AI dan tantangan talenta

Memenuhi tuntutan tersebut membutuhkan modernisasi fungsi keuangan melalui kecerdasan buatan atau AI dan pengembangan talenta yang terarah — dua hal yang hingga kini masih terus berkembang.

Berdasarkan CFO Pulse Survey, sebanyak 46 persen CFO menggunakan AI secara terbatas pada area tertentu, dan hanya 12 persen yang sudah menerapkannya secara meluas.

Padahal, penerapan berskala besar memberikan hasil sepadan. Hambatan yang dihadapi bersifat struktural: kebutuhan biaya atau sumber daya (53 persen), kesenjangan talenta/keterampilan (50 persen), serta permasalahan kualitas data (43 persen) menjadi kendala utama dalam fungsi keuangan.

Kondisi ini mendorong 78 persen CFO untuk berinvestasi dalam peningkatan keterampilan (upskilling) tenaga kerja.

BACA JUGA:Sutanto Hartono Bersyukur FIFA Percaya EMTEK Media Pegang Hak Siar FIFA ASEAN Cup 2026

Namun, CFO tidak dapat menutup kesenjangan ini sendirian. Laporan Komite Audit menunjukkan bahwa dukungan komite audit terbilang masih tertinggal, khususnya di bidang teknologi.

Hanya 15 persen CFO yang menilai dukungan komite audit terhadap peningkatan teknologi sudah mendekati ideal, dibandingkan dengan 33 persen untuk pengembangan talenta.

Pola serupa juga terlihat dalam perencanaan suksesi — hanya 48 persen komite audit yang menjadikannya sebagai agenda prioritas, meskipun hal tersebut merupakan salah satu risiko tata kelola yang sepenuhnya dapat diantisipasi.

“Adopsi AI tanpa rencana suksesi yang kuat ibarat mengotomatisasi kapal tanpa ada nakhoda yang mengendalikannya. Bagi CFO di Indonesia, peluang terbesarnya bukan sekadar efisiensi, melainkan memanfaatkan AI untuk meluangkan waktu bagi pengambilan keputusan krusial, sekaligus secara terarah memperkuat kesiapan talenta penerus. Inilah yang mengubah investasi AI menjadi ketahanan tata kelola yang berkelanjutan, bukan sekadar proyek peningkatan produktivitas,” tutur Liana Lim.