Reduksi Ilmiah dalam Ilmu Sosial Modern dan Cara Kembali ke Semangat Awal Comte
Maximus Gorky Sembiring (kanan) & Mohamad Pandu Ristiyono (tengah), Kedua Penulis adalah Dosen Universitas Terbuka, Tangerang Selatan-weradio.co.id-UT
b. Statistik sebagai Alat, Bukan Dogma
Kita harus menempatkan statistik sebagai alat bantu analisis, bukan sumber kebenaran absolut. Statistik berguna untuk pola, tetapi tidak memadai untuk makna.
c. Pendekatan Multimetode
Ilmu sosial sebaiknya mengembangkan model multimetode yang menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif secara komplementer. Ini bukan kompromi pragmatis, melainkan strategi epistemologis untuk menangkap kompleksitas sosial.
d. Tujuan Sosial Ilmu
Ilmu sosial bukan hanya untuk menjelaskan, tetapi untuk memperbaiki masyarakat. Positivisme Comte bersifat normatif. Ilmu seharusnya menjadi pemandu rekayasa sosial etis dan progresif.
BACA JUGA:Prakiraan Cuaca Hari Ini, Banyak Wilayah di Indonesia yang Diguyur Hujan
Muhasabah
Ilmu sosial yang hanya mengandalkan statistik telah menyimpang dari semangat asli dan awal positivisme Comte. Statistikisme membungkam dimensi manusiawi dan melahirkan hukum-hukum masyarakat yang semu. Sudah saatnya ilmu sosial direhumanisasi; dengan menempatkan kembali statistik sebagai alat bantu, bukan sumber kebenaran. Kembalinya kita pada semangat positivisme holistik Comte adalah jalan menyelamatkan ilmu sosial dari penyempitan makna dan menuju masa depan lebih etis, bermakna, dan berdampak.
Dengan mempertimbangkan tantangan yang dihadapi oleh ilmu sosial modern, sangat penting untuk kembali kepada semangat asli positivisme Comte. Statistikisme, meskipun menawarkan alat analisis yang berguna, tidak boleh dijadikan satu-satunya pendekatan dalam memahami kompleksitas sosial. Ilmu sosial harus mengintegrasikan dimensi moral, historis, dan kultural untuk memberikan pemahaman yang lebih utuh tentang realitas manusia.
Melalui pengembangan model multimetode dan penekanan pada penelitian kualitatif, kita dapat menciptakan ilmu sosial yang lebih humanistik dan berdampak. Dengan demikian, ilmu sosial tidak hanya menjelaskan fenomena, tetapi juga berkontribusi pada perbaikan masyarakat.
BACA JUGA:Prakiraan Cuaca Hari Ini, Banyak Wilayah di Indonesia yang Diguyur Hujan
Saatnya untuk merehumanisasi ilmu sosial dan menempatkan kembali statistik dalam konteks yang sesuai, menjadikannya alat bantu untuk memahami, bukan sebagai tujuan akhir. Dengan langkah ini, kita dapat menempuh jalan menuju masa depan yang lebih etis, bermakna, dan progresif dalam kajian ilmu sosial.
Catatan: Maximus Gorky Sembiring & Mohamad Pandu Ristiyono, Kedua Penulis adalah Dosen Universitas Terbuka, Tangerang Selatan