Saksikan Wajah Lokal, Peserta PKSN XIII Kunjungi Komunitas Etnis di Pontianak
Artis Lisa A. Riyanto mencoba membuat caping, topi berbahan daun berbentuk kerucut, saat mengunjungi Kampung Wisata Caping di Kota Pontianak, Jumat, 29 Mei 2026. -Weradio.co.id-Komsos KAP
BACA JUGA:Gempuran Teknologi Intai Media Gereja, Pegiat Komsos Wajib Berbenah
Sinta Devianti, pendamping masyarakat Kampung Caping, menjelaskan, rumah ini menjadi ruang edukasi dengan kearifan lokal.
Mengembangkan seni tradisi, kerajinan khas, perpustakaan kampung, hingga kampanye mengurangi penggunaan plastik.
Makanan ringan yang disajikan kepada rombongan dikemas dengan daun pisang. Disajikan dengan nampan yang dibuat dari bahan bambu dan rotan.
Artis senior yang menyertai kunjungan, Lisa A Riyanto, mengatakan, kunjungan ke rumah-rumah tradisional menjadi kesempatan memahami cara masyarakat mempertahankan budaya dan tradisi. Terlebih kaum ibu diberdayakan untuk usaha berbasis kreativitas setempat.
BACA JUGA:Aroma Wangi Bunga dan Cahaya Langit Terang Iringi Misa Gunung Padang
“Kerajinan lokal memiliki nilai budaya dan ekonomi yang besar. Awalnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, berkembang menjadi produk unggulan bahkan mampu menembus ekspor,” tutur Lisa.
Nilai Kehidupan Komunal
Di Rumah Hakka Kalimantan Barat, sebagai representasi sebagian etnis Tionghoa, rombongan disambut sejumlah pengurus Perkumpulan Hakka.
Dewan Pengawas, Antonius Kadir, memperkenalkan kalimat 'Hari Komunikasi Sosial Sedunia' dalam bahasa Hakka, yakni 'Si Kai Sa Fui Chon Bo Nyit'.
“Rumah Hakka menyimbolkan semangat orang Hakka yang punya satu hati. Kami harapkan semangat ini menginspirasi untuk kita semua memiliki kesatuan hati yang sama,” ujar Kadir.
Sementara itu, RD. Stephanus Jemmy Fantaw, Ketua Komisi Komsos Keuskupan Malang, mengatakan, rumah budaya ini tak hanya memperlihatkan kekayaan tradisi, tetapi juga nilai kebersamaan yang terpelihara.
“Mereka mengembangkan nilai spiritualitas, dan semangat hidup positif, sehingga mempererat persaudaraan. Ini perlu diperkenalkan luas agar menginspirasi di tengah keberagaman Indonesia,” ujar Jemmy.
Setelah dari tempat itu, rombongan bergerak ke Rumah Betang di Jl Sutoyo. Di sana, para pemuda menabuh musik tradisional mengiringi penari putri, menyambut dengan ritual menaburkan beras kuning sebagai simbol penerimaan.