Gempuran Teknologi Intai Media Gereja, Pegiat Komsos Wajib Berbenah
Wartawan senior The Jakarta Post, Kornelius Purba, menyampaikan materi jurnalistik bagi pegiat komunikasi peserta PKSN XIII di Pontianak, Kamis, 28 Mei 2026.-Weradio.co.id-Komsos KAP
PONTIANAK, Weradio.co.id - Para pengelola media Gereja Katolik di bawah Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) keuskupan dituntut berbenah dari persoalan klasik yang membuat sebagian mereka mati suri.
Pembenahan manajemen semakin mendesak, terlebih lini informasi keagamaan berhadapan dengan riuh-rendahnya jagat maya serta kencangnya perkembangan teknologi informasi termasuk kecerdasan buatan (AI).
Para Ketua Komisi Komsos dari 18 keuskupan di Indonesia, membahas poin krusial ini pada hari ketiga Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII di Pontianak, Kamis, 28 Mei 2026.
Mereka menggodok Draft Pedoman Umum Pastoral Komsos sebagai acuan bersama tata kelola pelayanan komunikasi di keuskupan masing-masing.
BACA JUGA:Tuan Rumah PKSN XIII 2026, Keuskupan Agung Pontianak Gaungkan Misi Menjaga Suara dan Wajah Manusia
Di antara pembahasan menyentuh dasar teologis, landasan spiritual, hingga langkah taktis menghadapi media siber baru.
Dua isu utama yang paling mengemuka berupa penguatan tata kelola keuangan dan panduan etis teknologi baru.
Sekretaris Komisi Komsos Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), RD Petrus Noegroho Agoeng, mengatakan, Komsos setiap keuskupan harus mampu memetakan masalah kemudian menjawab situasi konkret terkait tata kelola ini.
Dia menjelaskan, tantangan klasik yang masih membayangi Komsos di daerah, di antaranya, belum meratanya ketersediaan sukarelawan yang mempunyai kemampuan memadai hingga tingginya tingkat perputaran (turnover) pegiat media Gereja.
BACA JUGA:Kekayaan Budaya Kalbar Sambut Peserta PKSN XIII 2026 di Pontianak
Setiap Komsos keuskupan memiliki persoalannya sendiri-sendiri yang memerlukan pendekatan khas.
“Masalah keterbatasan dana dan kebingungan merintis tata kelola organisasi di tingkat lokal juga kerap menjadi batu sandungan. Ada tiga solusi strategis, yakni menaruh kepercayaan pada potensi umat di daerah, menggalang donasi publik lewat konsistensi karya media, serta wajib membangun komunikasi yang erat dengan Bapa Uskup sebagai kunci utama dukungan,” papar Agoeng.
Ketua Komisi Komsos KWI, Mgr Agustinus Tri Budi Utomo atau Mgr Didik, berharap delegasi komsos mampu menghayati pesan Paus Leo XIV yaitu menjaga suara dan wajah manusia, bukan sekadar slogan, melainkan panggilan perutusan suci.
Dia mengingatkan agar Komisi Komsos Keuskupan tidak jatuh menjadi 'kelompok ahli yang eksklusif'. Sebaliknya menjadi komunitas ramah dan aktif memberdayakan Orang Muda Katolik (OMK) untuk menghadirkan wajah keuskupan yang penuh keramahan.