Temukan Celah Keamanan FBI, Remaja 18 Tahun Asal Indonesia Cetak Sejarah di ASEAN

Temukan Celah Keamanan FBI, Remaja 18 Tahun Asal Indonesia Cetak Sejarah di ASEAN

Seorang remaja berusia 18 tahun asal Indonesia, Pajar Priandana, berhasil mencuri perhatian dunia keamanan siber internasional.-Weradio.co.id-Ayub Mauliate Sihombing

JAKARTA, Weradio.co.id – Seorang remaja berusia 18 tahun asal Indonesia, Pajar Priandana, berhasil mencuri perhatian dunia keamanan siber internasional.

Pajar mencatatkan sejarah sebagai orang pertama dari Indonesia sekaligus kawasan ASEAN yang sukses membobol dan menemukan celah keamanan (vulnerability) di situs resmi badan intelijen Amerika Serikat, Federal Bureau of Investigation (FBI).

Penemuan bug tersebut dilaporkan melalui mekanisme Vulnerability Disclosure Program (VDP) yang terhubung dengan Kementerian Kehakiman AS (U.S. Department of Justice/DOJ) serta platform Synack.

Bukannya memanfaatkan celah tersebut untuk tindakan ilegal, Pajar memilih jalur responsible disclosure, melaporkan temuan tersebut secara etis agar sistem dapat segera diperbaiki.

BACA JUGA:Ini Alasan Bima Maulana Taufik, Pelajar 16 Tahun Serius Menekuni Cyber Security

Atas kontribusi besarnya menjaga keamanan ekosistem digital tersebut, nama Pajar resmi masuk ke dalam daftar apresiasi (Acknowledgments) di situs resmi FBI.

"Pencapaian ini bukanlah akhir perjalanan," ujar Pajar yang aktif menekuni bidang vulnerability assessment dan pengujian keamanan siber, kepada Weradio.co.id, Selasa, 25 Agustus 2026.

Ia mengaku masih berambisi memperdalam kompetensinya di tengah kompleksitas tantangan teknologi masa kini.

Di balik prestasi berkelas dunia tersebut, Pajar menyimpan cita-cita besar untuk mengabdi kepada tanah air. Ia berharap keahliannya kelak dapat diperdayagunakan untuk memperkuat benteng pertahanan dan keamanan siber nasional Indonesia.

BACA JUGA:Geger Iuran Pagar SMPN 9 Tambun Selatan, Kepsek Buka Suara dan Batalkan Program Komite

Kiprah Pajar membuktikan bahwa talenta muda Indonesia mampu bersaing di tingkat global.

Keberhasilannya menegaskan pentingnya penguasaan etika, pengetahuan, dan tanggung jawab dalam dunia cybersecurity, sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi muda bahwa kontribusi besar bisa dimulai dari proses belajar secara mandiri.